Nama Puskesmas Tana Mori di Anggap Melacuri Sejarah Budaya di Golo Mori
METRORAKYAT.COM, MABAR – Ketua DPD KNPI Kabupaten Manggarai Barat, Hasanudin sampaikan nama puskesmas yang baru dibangun di Desa Golo Mori dengan sebutan ‘Tana Mori’, telah merubah nama asli Golo Mori, sehingga sama halnya melacuri sejarah dari sebutan wilayah Golo Mori.
Melalui pesan WhatsApp kepada media ini, Jumat, (08/12/2023), Hasanudin menegaskan bahwa sebagai putra asli Golo Mori tentu saya menolak, mengutuk dan mengecam, perubahan nama Golo Mori menjadi Tana Mori. Sebab nama Golo Mori adalah nama asli yang di berikan masyarakat Adat Lokal terhadap lokasi itu. Ini sama halnya Melacuri/Melecehkan terhadap budaya dan nenek moyang kami terdahulu.
“Saya hanya khawatir nenek moyang kami sudah berpulang,marah kepada oknum elit tersebut dan berdampak pada kejadian yang tidak kita inginkan,”tegas Hasan.
Lanjutnya, yang ditulis “Tana” lalu disambungkan dengan “Mori” mempunyai perbedaan makna dengan sebutan “Golo Mori”. Lalu apa maksud dari semua ini pihak pengelola, pemerintah merubah, sebutan dan tulisan “Golo Mori” dengan sebutan “Tana Mori”.
Hasan menjelaskan tanpa mempertimbangkan kearifan lokal, kultur budaya yang tumbuh berkembang di tengah masyarakat setempat apalagi tidak meminta ijin rupanya pemerintah Manggarai Barat sengaja dan pura-pura tidak tau, tidak menerima kritikan tentang perubahan nama Golo Mori dengan sebutan lain selama ini.
Pada kesempatan yang berbahagia sejak pemberitaan ini dibuat, saya Hasanudin selaku putra asli Golo Mori dan juga sebagai Ketua KNPI Manggarai Barat, saya mengingatkan, kepada pihak pengelola, pemerintah Dinkes Mabar yg telah merubah nama sebutan “Golo Mori” menjadi sebutan ‘Tana Mori” segera mencabut papan nama itu di atas Puskesmas Plus yg telah dibangun.
“Kalau papan nama itu tidak dirubah, kami seluruh tokoh muda Golo Mori akan melakukan upaya lain, dan akan terus melawan ketika harkat dan martabat kami dilecehkan oleh siapapun” ujar Hasan
Kemudian kejadian perubahan nama Golo Mori ini sudah beberapa kali terjadi, dan situasi ini menjadi atensi kami bahwa hal ini menjadi perhatian serius, dan kali ini kamipun serius menanggapinya, dan akan mengambil sikap kalau dalam tempo yang sesingkat²nya tulisan itu tidak dirubah.
Kalau ditukar diantara yang penting sebutan “Golo Mori” atau keberadaan puskesmas plus, kami pun tetap memilih keaslian ‘Golo Mori’, di banding keberadaan puskesmas plus itu tapi melecehkan pranata sosiologis masyarakat yg sudah terbangun dari dahulu.
Oleh sebab itu, kepada semua pihak, baik para koorporasi, pengelola, pemerintah, yang selalu punya niat mau merubah kultur tulisan, sebutan nama tempat yang ada di Manggarai Barat ini untuk tidak dan/ atau haram dilakukan.
Bagi kami warga lokal mereka – mereka itu tidak bedanya dengan para bandit, datang dan pergi sesuka hati, seenak gue, mau merubah segalanya kapan pun mereka mau. Dan cara – cara seperti ini, tidak bedanya model penjajah semi moderen, dengan uang dan kekuasaan mereka bisa mengambil segalanya dari apa yang kita miliki.
“Kita harus mematuhi dan mentaati adat istiadat masyarakat adat setempat, dimana bumi di pijak,maka disitu langit di junjung. Itu hukum adatnya,” tutup Hasan (MR/Eras)
