Memasuki Tahun 2023, Ada Delapan Strategi Untuk Berinvestasi
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Memasuki pertengahan Januari 2023, para investor tentunya sudah mulai mengalokasikan dananya untuk berinvestasi dengan semangat baru.
“Bagi investor lama, aktivitas rebalancing untuk menyesuaikan kembali portofolio investasi juga sudah dimulai,” sebut Kepala BEI Perwakilan Sumatera Utara (Sumut), Pintor Nasution, Sabtu (21/1/2023) di Medan.
Sedangkan untuk investor pemula, sambung dia, hal ini merupakan momen yang menantang karena seperti memasuki dunia baru, khususnya dalam hal pengelolaan aset melalui pasar modal.
Secara umum, strategi investasi dalam mengawali tahun yang baru bisa dilakukan para investor dengan cara menyesuaikan tujuan investasi maupun karakteristik masing-masing.
Seiring berjalannya waktu, strategi investasi bisa saja berubah secara dinamis mengikuti situasi, baik kondisi pasar, sentimen atau persepsi para pelaku pasar.
Strategi investasi juga bisa bervariasi akibat faktor eksternal seperti situasi dan kondisi perekonomian di dalam negeri, regional dan dunia.
Acuan suku bunga internasional yang umumnya merujuk pada suku bunga yang ditetapkan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed (The Federal Reserve), ikut menjadi salah satu indikator penting bagi pasar global.
Selain itu, strategi investasi bisa merujuk pada faktor politik, stabilitas keuangan dan faktor lain, termasuk analisa atas sektor-sektor usaha serta iklim usaha.
Karena itu, berbagai variabel-variabel tersebut membuat para investor di pasar modal yang berinvestasi secara langsung perlu memiliki waktu untuk mengamati dan menganalisis situasi dan kondisi pasar.
Dari berbagai macam strategi yang bisa dilakukan para investor seiring berjalannya waktu ada 8 strategi yang umum dipilih investor.
Pertama, strategi membeli saham di pasar perdana dan menjual di pasar sekunder. Strategi ini digunakan para investor karena adanya keyakinan harga suatu saham cenderung akan bergerak naik setelah saham dicatatkan di bursa efek.
“Biasanya ketika suatu saham ditawarkan kepada publik di pasar perdana, ada Penjamin Emisi Efek (PEE) atau yang disebut underwriter yang akan menjaga harga saham yang baru dicatat di pasar sekunder atau di Indonesia dicatat di BE supaya harganya tidak turun pada awal pencatatan,” bebernya.
Kondisi ini dimungkinkan karena underwriter umumnya telah mencadangkan dana untuk membeli saham emiten baru yang dijaminnya saat mulai dicatat di papan perdagangan BEI.
Namun, jika investor memilih strategi ini, setiap individu harus tetap menganalisa harga perdana (harga saham saat ditawarkan di pasar perdana) dan kondisi pasar saat saham tersebut saat tercatat di pasar sekunder.
Karena situasi ini hanya bisa berlaku pada waktu pasar sedang bullish (harga-harga saham di pasar sekunder sedang naik).
Jika momen pencatatan saham perdana terjadi pada waktu pasar sedang turun (bearish), bisa saja dana yang disiapkan underwriter tidak bisa mem-back up pembelian saham tersebut agar harganya naik.
Strategi kedua beli dan simpan atai buy and hold. Pada strategi ini digunakan investor yang berkeyakinan suatu perusahaan akan berkembang dalam jangka panjang.
Hal ini didukung perusahaan yang memiliki produk yang sangat strategis atau konsisten mencatatkan kinerja perusahaan yang positif dalam jangka panjang.
Umumnya strategi ini dilakukan dengan cara membeli saham di pasar sekunder ketika harga saham tergolong rendah atau ketika pasar sedang bearish (harga-harga saham cenderung turun).
Sehingga, ketika dalam jangka panjang kinerja perusahaan bertumbuh dan pasar bullish, investor bisa menjual saham ini dan mendapatkan capital gain.
Ketiga, strategi berpindah (switching). Strategi ini digunakan oleh investor yang aktif mengikuti perkembangan pasar.
Tujuannya adalah memanfaatkan peluang kemungkinan naiknya harga saham lain dengan harapan pemodal tersebut memperoleh capital gain dalam waktu singkat.
Dalam jangka panjang, strategi ini bertujuan mengubah jenis saham yang memiliki kompetensi dalam mengelola dana investasi.
Dengan demikian, MI akan melakukan penyebaran investasi untuk mencapai tingkat keuntungan tertentu dan meminimalisir risiko.
Melalui reksa dana, investor lebih pasif dan tidak perlu punya waktu khusus untuk memantau investasinya.
Investor hanya cukup melihat naik turunnya harga unit reksa dana yang dimilikinya. Kemudian, memutuskan waktu kapan hendak membeli dan menjual reksa dananya sesuai profil risiko dan kebutuhan investasi masing-masing.
“Nilai investasi yang dibutuhkan untuk membeli reksa dana juga relatif kecil, karena dapat dipecah ke dalam unit-unit reksa dana oleh MI,” pungkas Pintor. (MR/156).
