Pelaku Pariwisata Mabar Gelar Aksi Saat Launching Sistem Wildlife Komodo Melalui Aplikasi INISA PT Flobamora

Pelaku Pariwisata Mabar Gelar Aksi Saat Launching Sistem Wildlife Komodo Melalui Aplikasi INISA PT Flobamora
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MABAR, NTT – Saat Launching sistem Wildlife Komodo melalui aplikasi INISA yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT. Flobamora milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur tersebut disambut aksi demonstrasi oleh ratusan masa dari pelaku pariwisata Manggarai Barat.

Pantauan Media Metro Rakyat.Com, Aksi demonstrasi tersebut berlangsung di depan Hotel Local Collection, Labuan Bajo,”Jumat, (29/07/2022) dimulai pukul 10.00 WITA.

Aksi demonstrasi tersebut bersamaan dengan kegiatan peluncuran sistem Wildlife Komodo melalui aplikasi INISA yang dikelola oleh PT Flobamora yang dihadiri oleh Bupati Mabar Edistasius Endi, Ketua DPRD Mabar Marthinus Mitar, Kadis Pariwisata Mabar Pius Baut, Kepala BTNK Lukita Awang Nistyantara,Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur Zet Sony Libing dan pelaku pariwisata Mabar.

Hal yang sama dari aksi sebelumnya bahwa pelaku pariwisata Mabar menyampaikan penolakan terhadap kenaikan tiket ke TNK sejumlah Rp. 3.750.000 per 1 Agustus mendatang.

Koordinator Lapangan (Korlap) Rafael Todowela, menyampaikan bahwa, kehadiran PT Flobamora kedepanya tentu berdampak buruk terhadap penurunan kualitas hidup masyarakat Manggarai Barat, karena rakyat harus bersaing dengan perusahaan BUMD milik Pemprov NTT didalam skema monopoli bisnis pariwisata di Taman Nasional Komodo.

Menurut Rafael, sejatinya pembangunan ekonomi pariwisata itu tentunya juga harus berbasis pada kepentingan masyarakat luas ( inklusif tourisme) tidak dibenarkan dibangun atas dasar kepentingan kelompok orang (eksklusif tourisme).

Lalu terkait Pengelolaan TNK oleh PT. Flobamora adalah bagian dari cara-cara kerja monopoli ekonomi rakyat. Secara sosial dan budaya, ekonomi masyarakat Manggarai Barat secara makro dan mikronya adalah ekonomi kekeluargaan dan gotong royong, ciri ini adalah termanifestasi didalam praktek hidup sosial budaya masyarakat.

“Pasar ekonomi pelaku pariwisata saat ini hancur lebur, banyak bokingan wisatawan yang batal ke Labuan Bajo akibat mahalnya biaya tiket ke T.n Komodo”,Ujar Rafael

Dirinya juga menyebutkan bahwa Inklusifitas ekonomi harus menjadi dasar pembangunan ekonomi masyarakat Manggarai Barat dan satu juta lima ratus masyarakat flores dan 6 juta masyarakat NTT (greates people for greatest number) kepentingan ekonomi mayoritas masyarakat lebih penting dari pada satu golongan kepentingan perusahaan. (MR/Eras Tengajo)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.