oleh

KPw BI Sumut: Juni 2022 Inflasi Meningkat Sebesar 5,61 %

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Juni 2022 inflasi tahunan meningkat sebesar 5,61 perden (yoy) yang artinya lebih tinggi dari bulan sebelumnya pada tahun yang sama berada diangka 4,18% (yoy) dan di atas rentang target inflasi nasional 3±1%.

“Peningkatan inflasi disebabkan kmoditas cabai merah menjadi faktor utama pembentukan inflasi di Sumatera Utara (Sumut) Juni 2022 dikarenakan oleh menurunnya pasokan cabai merah dari dalam dan luar Sumut sebagai dampak gangguan cuaca cerah sehingga mendorong kenaikan harga komoditas tersebut.

Beberapa komoditas lain seperti minyak goreng, daging sapi, telur ayam, bawang merah juga beras mencatatkan harga di atas range maupun rata-rata harga 3 tahun terakhir,” beber Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sumut Ibrahim, didampingi Azka Subhan Aminurridho, Deputi Kepala KPw-BI saat Bincang- Bincang Media (BBM), di Gedung KPw BI Sumut, Jl.Balai Kota No.4 dan melalui siaran persnya, Selasa (26/7/2022), Medan.

Lanjut Ibrahim menjelaskan, bahwa bulan Juli 2022, inflasi Sumut, diprakirakan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini diprakirakan dipengaruhi oleh masih tingginya curah hujan juga peningkatan sifat hujan Juli yang dipengaruhi produktivitas yang berlanjut kenaikan harga pupuk dan pakan ternak, tarif angkutan udara yang diprakirakan masih tinggi seiring dengan perkembangan harga avtur yang masih tinggi serta dampak kenaikan tarif listrik dan harga elpiji non subsidi.

Di sisi lain, normalisasi konsumsi masyarakat disertai upaya TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) untuk memastikan adanya ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi maupun dukungan kebijakan Pemerintah diprakirakan dapat menahan tekanan inflasi lebih lanjut.

Kemudian berbagai upaya terus dilakukan oleh KPwBI Sumut bersama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu), salah satunya melalui penyelenggaraan operasi pasar murah. Selain itu, pengembangan serta penggunaan pupuk organik juga akan terus didorong guna menekan biaya produksi di tengah kondisi kenaikan harga pupuk dunia.

Kemudian disampaikan Ibrahim, secara keseluruhan tahun 2022, nflasi Sumut diprakirakan akan lebih tinggi dari tahun 2021, yang berpotensi lebih tinggi dari rentang sasaran 3%±1 persen.
Peningkatan inflasi didorong dengan meningkatnya pendapatan masyarakat seiring kian pulihnya perekonomian, berlanjutnya konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi dan pangan global, kebijakan proteksionisme pangan beberapa negara di dunia serta faktor gangguan cuaca.

Untuk itu adanya sinergi dan koordinasi melalui forum TPID perlu senantiasa diperkuat dalam penyusunan formulasi kebijakan yang tepat guna mengantisipasi risiko-risiko tersebut agar tingkat inflasi di Sumut tetap terjaga.

“KPw BI Sumut juga terus melakukan berbagai upaya perluasan implementasi dan edukasi QRIS, perluasan elektronifikasi transaksi, serta sosialisasi Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah ke berbagai lapisan masyarakat di Sumut. Upaya sosialisasi dan edukasi QRIS dapat terus mendorong peningkatan literasi dan akseptasi masyarakat terhadap QRIS, sebagai alternatif pembayaran nontunai yang cepat, mudah, murah, aman dan handal.

Perluasan elektronifikasi transaksi juga terus disinergikan dengan para stakeholder terkait, khususnya pada beberapa program elektronifikasi seperti Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD), Bantuan Sosial Non Tunai (BSNT) dan elektronifikasi di sektor transportasi dan destinasi wisata. (MR/156).