BI Perkuat Sinergi Bersama Pemerintah Guna Menekan Inflasi
METRORAKYAT.COM, JAKARTA – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 April 2022, telah memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) dengan nilai sebesar 3,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75 persen dan Lending Facility sebesar 4,25%.
Keputusan keputusan tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan terkendalinya inflasi, juga sebagai upaya agar tetap mendorong pertumbuhan ekonomi, di tengah masa pandemi Covid-19 serta tekanan eksternal yang semakin meningkat terkait dengan ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju.
Hal itu dibenarkan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo saat membacakan hasil RDG Bulanan Bulan April secara virtual zoom, Rabu (20/4/2022).
Di kesempatan itu, Gubernur BI ini juga menyampaikan Bank Indonesia (BI) terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan, serta meningkatkan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, ekspor, serta inklusi ekonomi dan keuangan.
“Berlanjutnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina berdampak pada pelemahan transaksi perdagangan, kenaikan harga komoditas maupun ketidakpastian pasar keuangan global di tengah penyebaran pandemi Covid-19 yang menurun,” cetus Perry Warjiyo.
Dimana pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok dan India diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut sambungnya, Bank Indonesia merevisi prakiraan pertumbuhan ekonomi global pada 2022 menjadi 3,5 persen dari sebelumnya sebesar 4,4 persen.
Volume perdagangan dunia juga diprakirakan lebih rendah sejalan dengan perlambatan ekonomi global dan gangguan rantai pasokan yang masih berlangsung. Harga komoditas global mengalami peningkatan, termasuk komoditas energi, pangan dan logam, sehingga memberikan tekanan pada inflasi global.
Adanya ketidakpastian pasar keuangan global juga masih tinggi sejalan dengan berlanjutnya ketegangan geopolitik di tengah percepatan normalisasi kebijakan moneter di berbagai negara maju termasuk Amerika Serikat (AS) seiring yang semakin tingginya tekanan inflasi.
“Maka hal ini juga mendorong terbatasnya prospek aliran modal asing, secara khusus portofolio, dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia,” pungkasnya. (MR/156).
