Martinus Teo, Petani Porang Sukses Dalam Budidaya 80 Ribu Porang Tapi Galau di Harga Pasar

Martinus Teo, Petani Porang Sukses Dalam Budidaya 80 Ribu Porang Tapi Galau di Harga Pasar
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MABAR,NTT – Pengembangan tanaman porang mulai membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Proses budidaya yang baik tahun ini berhasil menaikkan tingkat produktivitas hingga dua kali lipat dibanding tahun lalu.

Diperkirakan diakhir tahun 2021 kemarin hingga Januari Tahun 2022 ini proses panen akan terjadi dan akan masuk pada tahap pemasaran. “Banyak petani porang di beberapa wilayah di Kabupaten Manggarai Barat khususnya di Kecamatan Macang Pacar sudah mulai panen pada bulan ini, namun panen itu terjadi karena Faktor kebutuhan ekonomi dan gelisah dengan harga Porang yang semakin menurun.

Martinus Teo, Salah satu petani Porang dari Desa Raba, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat yang jumlah Porang berhasil di tanam kisaran 80 Ribu saat diwawancarai oleh wartawan media ini, Rabu, 02/2/2022

lanjut Martinus Teo menyampaikan bahwa, Fenomena ini terjadi karena sukses budidaya yang terjadi belum diikuti dengan manajemen pasar yang terukur. Bukan hanya kendala pasar yang belum terukur, namun harga umbi porang juga mengalami penurunan.

“Pada tahun 2020 lalu harga stabil dikisaran Rp 8.000/kg, namun sekarang hanya di angka Rp 7.500/kg saja,” kata pria yang sering dipanggil Bos porang itu. Kondisi ini menurut Marten Teo, cukup membuat galau petani yang sangat antusias menanam tanaman ini serta tanaman Porang itu sering kali diserang oleh hama.

Sementara itu, ada banyak hal yang harus dilakukan bersama untuk mengatasi situasi seperti ini. Misalnya, petani harus mulai berfikir untuk mengintip pasar porang secara jeli terlebih dahulu, sebelum melakukan budidaya. Baik pasar lokal maupun pasar ekspor.

Untuk pasar lokal, pemerintah kabupaten Manggarai Barat terus mendorong agar adanya kemitraan antara petani dengan perusahaan di daerah atau UMKM lokal untuk bisa mengolah umbi porang menjadi bentuk chip yang sudah di oven, tepung konjac maupun bentuk olahan jadi seperti shiratake, atau bihun.

Data mencatat, bahwa pasar lokal hanya menyerap 10 persen dari hasil panen. Sedangkan sisanya 90 persen diekspor kebeberapa negara tujuan utama seperti Jepang, Korea, Tiongkok dan Vietnam.

Namun demikian, ke depan, Martinus Teo berharap, perlu perubahan skema konsumsi lokal, sehingga penyerapan lokalnya bisa naik. Untuk itu, UMKM harus mampu mengolah umbi menjadi makanan olahan seperti nasi, mie, bubur bahkan eskrim dari porang.

Dengan demikian akan terjadi peningkatan nilai tambah, baik bagi petani dan pengusaha juga akan menyerap tenaga kerja di sektor pengolahannya. Untuk itu kami meminta agar mulai mengkampanyekan, bahwa umbi porang dan produk turunannya sebagai alternatif pangan lokal yang menyehatkan,” tutup Martinus Teo.(MR/Eras Tengajo)

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.