Ini Harapan Pedagang Sayur dan Buah Yang Biasa Berjualan Di Ex Pasar Weleri

Ini Harapan Pedagang Sayur dan Buah Yang Biasa Berjualan Di Ex Pasar Weleri
Bagikan

 

lokasi tempat berjualan para pedagang sayur dan buah di depan lapangan Gelora Desa Weleri Kecamatan Weleri, Rabu (2/2/2022).

METRORAKYAT.COM, KENDAL – Dampak Terbakarnya pasar Induk Weleri membuat para pedagang sayur dan buah bingung mencari lokasi untuk berdagang yang nyaman tanpa ada resiko, mereka menyadari, belum memiliki kartu kuning, para pedagang grosir yang biasa berjualan di exs Pasar Weleri pagi dan siang hari, kini mulai berjualan di depan lapangan sepakbola Gelora, Desa Weleri Kecamatan Weleri. Rabu (2/2/2022).

pedagang yang datang dari berbagai daerah tersebut sudah lama berjualan mencoba mengadu nasib dengan berjualan di area tersebut.

Mereka beralasan, selama ini tidak memiliki tempat resmi untuk berjualan. Alasannya, karena mereka tidak memiliki kartu kuning, atau kartu tanda pedagang di pasar relokasi Weleri yang dikeluarkan oleh Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Kendal.

kepada awak media, salah seorang pedagang sayur asal Wonosobo, Irwan mengungkapkan, Menurutnya ia dan teman-temannya tidak bisa jualan di pasar relokasi, karena diberi waktu diatas jam 16.00 WIB.

“Ya kalau dulu sebelum pasar Weleri terbakar, kami mulai buka jam satu siang di sekitar stasiun Weleri. Tapi sekarang saat sudah pindah di relokasi, kami diperbolehkan jualan di atas jam empat sore, otomatis pelanggan kita sudah hilang,” ungkapnya didampingi rekannya Agus.

Senada diungkapkan pedagang lain, Komarudin asal Kendal, mengaku dirinya bersama 60 pedagang lainnya ingin keberadaannya dilegalkan pemerintah.

“Ya kalau bisa kami juga bisa mengurus surat atau kartu kuning seperti pedagang lainnya. Sehinggga keberadaan kami legal atau resmi sebagai pedagang di Pasar relokasi Bahurekso,” ujarnya.

Komarudin mengungkapkan, selama ini semua kewajiban sudah ia penuhi sesuai yang ditetapkan oleh dinas terkait. Namun untuk hak-haknya selama ini, Komarudin mengaku pihak dinas terkait kurang memperhatikan.

“Bahkan kalau kami jualan di pasar relokasi, pedagang yang memiliki kartu kuning sering mengatai kami, posisi kami dan legalitas kami berjualan di pasar relokasi itu apa. Rasanya kami seperti diusir,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Pengelola Pasar Gelora Weleri, Arif Setiawan menjelaskan, adanya pasar ini dalam rangka menampung para pedagang siang yang tidak diperbolehkan berjualan di relokasi pasar di Terminal Bahurekso.

“Posisi kita hanya memfasilitasi para pedagang jualan sayur dan buah yang biasa berjualan siang tapi tidak boleh berjualan mulai jam dua siang. Karena para pedagang pagi masih berjualan di sana,” terangnya.

Arif juga memaparkan, para pedagang yang ditampung berasal dari Kendal, Gemuh, Pegandon, Gringsing, Sukorejo dan Wonosobo, juga dari daerah lain, tercatat sudah ada 23 pedagang yang berjualan di Pasar Gelora.

“Kami dan para pedagang siap kalau pemerintah mengenakan tarif retribusi. Namun untuk sementara para pedagang belum kami kenakan biaya sepeser pun;” ungkapnya.

Sementara itu menurut pengakuan, salah seorang pembeli, Edi Salim dari Desa Penyangkringan Weleri, dengan adanya penjual di pasar ini, dirinya merasa terbantu.

“Ya karena dengan adanya pasar lokasi depan lapangan Gelora Desa Weleri ini, saya jadi tidak perlu jauh untuk berbelanja,” ungkapnya.(mr//siva zou)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.