Wabup Samosir Sidak Perkampungan Lumban Silo, Pangururan
METRORAKYAT.COM, SAMOSIR – Wakil Bupati (Wabup) Samosir, Martua Sitanggang melalukan sidak mendadak ke Perkampungan Lumban Silo, Pangururan.
Peninjauan lokasi dilakukan secara bersama oleh pemilik lahan yang menghibahkan lahanya untuk merelokasikan Perkampungan Sitanggang Silo terdampak proyek pembangunan Alur Tano Ponggol.
“Kita sedang melakukan peninjauan lokasi, guna mendukung berjalanya pembangunan Alur Tano Ponggol,” ucap Martua Sitanggang. Kamis (4/11/2021), Samosir.
Dikesempatan itu, ikut mendampingi Asisten l Mangihut Sinaga, Camat Pangururan Bresman Simbolon, Kepala Desa Parsaoran l Sumanggar Nainggolan bersama pihak Kejaksaan Negeri Samosir.
“Nantinya, lokasi yang di tinjau ini akan dijadikan Kampung Lumban Silo, karena merupakan satu – satunya kampung asal dari marga Sitanggang Silo di Samosir ini”, ucapnya.
Menurut Wabup, Perkampungan Lumban Silo memiliki sejarah yang luhur bagi seluruh Sitanggang Silo yang patut dipertahankan dan tidak boleh hilang.
“Kita harus mendukung program pemerintah membangun Alur Tano Ponggol, karena ini akan menjadi salah satu ikon wisata idaman di Samosir nantinya,” tandasnya.
Di akuinnya, juga mengaku bahwa dia merupakan salah seorang yang nenek 55moyangnya berasal dari Perkampungan Lumban Silo. Wabup memang cukup dikenal sebagai orang jujur yang hatinya pasti tenang.
Manusia memiliki berbagai macam karakter yang mungkin dibawa secara alami turun temurun, ada juga pengaruh lingkungan dan ada juga dari pengalaman hidup atau didapatkan dari tempat dimana dia mendapatkan pendidikan. Namun karakter manusia itu ada yang baik dan ada juga yang buruk.
Berbagai macam karakter tersebut, demikian Martua, dapat dilihat pada diri seseorang saat dia hendak berusaha mencapai tujuan atau cita–citanya, dari situ dapat dikenal karakternya baik atau buruk.
Jika dia memiliki karakter yang baik, maka pada saat berusaha mencapai tujuannya, dia akan berlaku jujur dengan melakukan segala upaya yang baik dalam mendapatkan tujuan itu, sehingga sangat jarang ada orang yang merasa dikorbankan pada saat dia berhasil mencapai cita – citanya.
Akan tetapi kalau karakter sesorang itu buruk, maka dalam menggapai tujuanya dia akan menghalalkan segala cara, bahkan dia akan melakukan upaya upaya jahat demi tujuanya, walaupun dia harus mengorbankan orang lain. (MR/156).
