Kpw BI Sumut: Kredit Perbankan Sumut Tumbuh Melambat
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Berdasarkan catatan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) wilayah Sumut, bahwa penyaluran kredit perbankan yang berada di posisi Agusutus 2021 sebesar Rp233,1 triliun, tumbuh melambat 3,8 persen dibanding posisi sama tahun 2020 sebesar Rp228 triliun.
Kepala KPw BI Sumut Soekowardojo menyampaikan di acara Bincang Bareng Media (BBM), Jumat (1/2/2021).
Dijelaskan dia, bahwa penyaluran kredit Agustus 2021 juga turun dibanding Juni 2021 sebesar Rp235 triliun.
Pertumbuhan kredit menurut dia, melambat (4,12 persen-> 2,12 persen) yang didorong melemahnya Kredit Modal Kerja (KMK) hingga 10,12 persen dari sebelumnya 13,3 persen di triwulan II-21. Juga melemahnya kredit Investasi (KI) (-7,6 persen -> -10,5 persen).
Sedangkan dari sisi sektoral, penyaluran pembiayaan menurun pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran (PBE) juga industri pengolahan, namun meningkat di sektor utama pertanian juga konstruksi.
“Dengan melemahnya penyaluran kredit pada sektor PBE serta industri pengolahan diduga akibat adannya sikap pelaku usaha yang masih wait and see terhadap perekonomian saat ini,” imbuhnya.
Namun, risiko gagal bayar (NPL) masih relatif terjaga di angka 3,35 persen di bulan Agustus 2021. NPL Juni 3,26 persen dan Agustus 2020 sebesar 3,56 persen.
Walaupun secara nominal mencatat perbaikan (Rp280 triliun -> Rp284 triliun), pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) melambat (12,35 persen -> 10,76 persen) didorong oleh penurunan pada seluruh kelompok perbankan serta seluruh jenis simpanan.
“Berdasarkan golongan nasabah, penurunan DPK didorong oleh seluruh golongan,” pungkasnya.
Hal ini juga didorong oleh Pemerintah
yang diduga semakin optimal untuk melakukan belanja daerah dan perseorangan serta swasta yang diduga cenderung menyimpan simpanannya dalam bentuk lain.
Penurunan DPK di seluruh kelompok mengindikasikan sudah mulai adanya kenaikan pada aktivitas dunia usaha yang didukung dengan penurunan tabungan pemerintah akibat realisasi proyek yang dilakukan.
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh melambat. Sesuai kepemilikan, penurunan DPK didorong oleh seluruh golongan nasabah. Sementara pertumbuhan kredit dan DPK Valas lebihvolatile dibandingkan rupiah.
“Pangsa kredit yang selanjutnya DPK pun masih didominasi rupiah,” paparnya.
Lanjutnya lagi, pangsa kredit UMKM mencapai 25,31 persen terhadap kredit total Sumut meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 24,92 persen.
Disamping itu, kinerja kredit UMKM membaik didorong perbaikan pada seluruh segmen UMKM kecuali di segmen menengah. Risiko kredit sedikit meningkat dibandingkan triwulan-II sebelumnya seiring meningkatnya jumlah kredit tidak lancar, NPL mencapai 5,02 persen.
Secara spasial, realisasi kredit masih terpusat di kota Medan dan daerah pantai timur lainnya sejalan dengan kapasitas ekonomi Sumut. Akan tetapi secara sektoral, seluruh sektor utama di Sumut kecuali industri pengolahan mengalami pertumbuhan kredit UMKM.
Dari sisi sektoral, penyaluran pembiayaan menurun pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran (PBE) dan industri pengolahan, namun meningkat pada sektor utama pertanian juga konstruksi.
Melemahnya penyaluran kredit pada sektor PBE dan industri pengolahan diduga terjadi akibat sikap pelaku usaha yang masih wait and see terhadap perekonomian saat ini.
“Namun, risiko gagal bayar (NPL) masih relatif terjaga di angka 3,35 persen,” katanya menutup.(MR/156).
