Ini Pesan Anggota Komisi IX DPR-RI Bersama BKKBN Tentang Stunting Dan Kurang Gizi
METRORAKYAT.COM, KENDAL -Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Tuti Nusandari Roosdiono.memberikan perhatian khusus persolaan stunting dan Kurang Gizi, Menurutnya, upaya penurunan angka stunting di Indonesia, sudah diamanatkan oleh Presiden RI, Joko Widodo.
Hal tersebut ia sampaikan secara virtual kepada masyarakat di wilayah Kecamatan Sukorejo, Plantungan dan Patean, dalam acara sosialisasi Penguatan Pendataan Keluarga dan Kelompok Sasaran Bangga Kencana bersama BKKBN, di Aula Kantor Kecamatan Sukorejo, Rabu (27/10/2021).
Menurut Tuti, kondisi yang terjadi saat ini, kebanyakan ibu-ibu mengandung sibuk atau lupa menjaga kesehatan tubuh. Akibatnya, setelah proses persalinan ASI tidak dapat keluar seperti yang semestinya.
“Sehingga bayi kurang mendapatkan asupan gizi sempurna karena harus diganti menggunakan susu formula. Di zaman saya dulu, ibu hamil rutin menggunakan minyak kelapa minimal satu kali dalam sehari,” ungkapnya.
Upaya seperti itu menurut Tuti, dipercaya memiliki banyak manfaat antara lain menjaga kesehatan kulit, memudahkan saat proses melahirkan, dan meningkatkan produksi serta melancarkan ASI.
“Seribu hari pertama kehidupan harus diperhatikan dan pemberian asupan gizi yang cukup melalui ASI. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang, ingat pentingnya pemberian ASI eksklusif di awal kelahiran anak,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Sukorejo, Mansyur dalam sambutannya mengakui, ada 50 anak di wilayah Sukorejo yang menderita stunting. Hal ini menurutnya, kondisi anak di dalam keluarga yang tidak mampu.
“Ada enam desa di wilayah Kecamatan Sukorejo, di antaranya, Desa Purwosari, Beringinsari, Tamanrejo, Ngadiwarno, Genting Gunung, dan Desa Sukorejo. Tertinggi ada di Desa Purwosari dengan 16 anak dari keluarga tidak mampu,” paparnya.
Mansyur menegaskan, pencegahan dan penanggulangan stunting menjadi tanggung jawab bersama.
Karena menurutnya, dalam jangka panjang berdampak buruk tidak hanya terhadap tumbuh kembang anak, tetapi juga terhadap perkembangan emosi yang berakibat pada kerugian ekonomi.
“Semoga sosialisasi ini mejadi acuan untuk meningkatkan pengetahuan kita bersama dalam upaya menekan dan mempercepat angka penurunan stunting di Kabupaten Kendal, khususnya di Kecamatan Sukorejo,” tuturnya.
Bidang Advokasi Komunikasi Informasi dan Edukasi Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Farida Sumarlin dalam pemaparan materi sosialisasi mengatakan, tingginya angka stunting di Sukorejo harus menjadi tanggung jawab bersama.
Menurutnya, pencegahan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk membebaskan anak Indonesia, khususnya Kendal dari risiko terhambatnya perkembangan otak yang menyebabkan tingkat kecerdasan anak tidak maksimal.
“Selain itu juga menghambat pertumbuhan anak secara fisik, dibandingkan pertumbuhan anak pada umumnya,” jelas Farida.
Dalam rangka mempercepat penanganan stunting diperlukan koordinasi dan tindak lanjut dari seluruh instansi terkait, karena persoalan stunting ini merupakan tanggung jawab bersama.
“Perlu pendekatan dengan tokoh agama, tokoh masyarakat maupun aparat desa setempat untuk bergotong royong untuk mencegah dan menurunkan angka stunting,” imbau Farida.
Menurutnya, sosialisasi ini digelar, sebagai upaya pembinaan dan pengawasan kinerja Kabupaten/Kota dalam meningkatkan keterpaduan intervensi gizi dalam rangka percepatan penurunan angka stunting yang merupakan salah satu prioritas nasional.
“Untuk mencapai keterpaduan atau integrasi, maka diperlukan penyelarasan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan pengendalian kegiatan lintas sektor serta antartingkatan pemerintah dan masyarakat. Hal ini sebagai upaya pembinaan dan pengawasan dalam rangka meningkatkan keterpaduan intervensi gizi,” tutur Farida.
(mr//siva zou)
