oleh

Instrumen Investasi di Pasar Modal

METRORAKYAT.COM, JAKARTA – Berinvestasi di pasar modal merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengalokasikan dana untuk kebutuhan jangka panjang.

Kepala Perwakilan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Pintor Nasution, Senin (20/9/2021) menyampaikan investasi kini menjadi bagian dari perencanaan keuangan.

Investasi sebagai aktivitas untuk menempatkan modal, baik berupa uang dan aset berharga lain ke dalam suatu produk, lembaga, atau suatu pihak dengan harapan pemodal serta investor kelak akan mendapatkan keuntungan setelah kurun waktu tertentu.
Mengapa disebut kurun waktu tertentu, bukan dalam waktu cepat ? Karena esensi dari investasi yang utama adalah untuk melindungi nilai uang kita dari inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa di masa depan.
Aktivitas spekulasi bisa memberikan keuntungan, tetapi memiliki risiko yang besar. Karena apapun jenis aktivitas investasinya, akan selalu merujuk pada prinsip investasi yang sesungguhnya yaitu high risk, high return dan low risk, low return.
Kembali ke investasi di pasar modal, katanya, ada beberapa jenis produk di pasar modal yang berkaitan dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan.
Semakin berkembang pasar modal di suatu negara, maka semakin bervariasi ragam produk investasinya.
Di pasar modal Indonesia, jelas Pintor, investor bisa memilih produk investasi saham, surat utang negara (SUN), obligasi korporasi, reksa dana, exchange trade fund (ETF), dan produk-produk derivatif.
Investor yang ingin berinvestasi dengan membeli produk-produk di pasar modal harus terlebih dahulu menjadi nasabah di perusahaan efek.
Seperti menjadi nasabah bank, investor akan membuka rekening efek di perusahaan efek.
Ada lebih dari 96 perusahaan efek yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan cabang yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, dan menjadi anggota Bursa Efek Indonesia.
Perusahaan efek yang menjadi anggota bursa (AB) akan menjadi perantara bagi investor untuk membeli produk investasi melalui sistem perdagangan anggota bursa yang terhubung dengan sistem perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). “Produk investasi yang pertama adalah saham,” paparnya
Produk investasi ini memiliki karakteristik risiko investasi yang paling tinggi karena harga saham akan bergerak setiap waktu berdasarkan hukum ekonomi, yaitu permintaan dan penjualan.
Dengan mengasumsikan faktor lain bersifat tetap, semakin banyak investor yang ingin membeli saham tertentu, maka harga saham akan semakin tinggi.
Sebaliknya, semakin banyak investor yang ingin menjual, maka harga saham akan turun.
Permintaan dan penawaran saham dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor fundamental perusahaan, iklim bisnis berdasarkan sektor usaha perusahaan, faktor ekonomi suatu negara, kondisi perekonomian global serta dunia, dan faktor lainnya, seperti politik, keamanan, termasuk kondisi pandemi.
Karena berinvestasi saham berarti ikut memiliki perusahaan tersebut, maka pemegang saham akan sama-sama menanggung risiko yang terjadi pada perusahaan dalam bentuk penurunan harga saham.
Sebaliknya, pemegang saham juga akan menerima dampak positif jika kinerja perusahaan dan situasi eksternal positif, yang terefleksi pada kenaikan harga saham.
Produk investasi berikutnya yaitu surat utang negara yang diterbitkan pemerintah dan obligasi korporasi atau surat utang yang diterbitkan perusahaan.

Investor sama-sama bisa membeli obligasi dan surat utang yang ada di sistem perdagangan BEI melalui perantara sistem perdagangan milik perusahaan sekuritas atau melalui bank yang menjadi agen penjual obligasi. (MR/156)

Breaking News