oleh

Nasib Seorang Guru Ngaji Di Kendal Yang Butuh Bantuan Pemerintah

METRORAKYAT.COM, KENDAL – Guru mengajar Al-Quran dirumah belum pernah tersentuh bantuan, umumnya kyai kampung yang berada di pelosok desa.yang notabene diluar naungan fuspaq, seperti dimadrasah diniyah dibawah kementrian agama, maupun formal yang sudah di fasilitas oleh pemerintah.

Seperti yang diungkapkan slamet,guru ngaji di dukuh boja Desa Tejorejo, kecamatan ringinarum, Kabupaten Kendal.

Tanpa sengaja tukang jahit itu juga sebagai guru pengajar Al-Quran dirumahnya ,melintasi depan rumah salah seorang awak media,untuk meminta dibetulkan celana sarung yang kepanjangan untuk dipotong.

Diceritakan, Slamet dari keluarga besar anak kesembilan dari Sembilan bersaudara menghuni rumah milik almarhum orang tua, saudara ada yang dirantau dan ada yang tinggal bersama serumah.

Dikatakan, untuk keseharian mengajar ngaji usai magrib, pagi hingga sore hari bekerja sebagai tukang jahit keliling.

“Ya buat memenuhi kebutuhan anak dan istri, sehari-hari saya bekerja sebagai tukang jahit. Baik Keliling maupun di rumah,” ungkapnya, Rabu (18/8/2021).

Menurutnya, rumah yang dihuni betul layak huni, namun untuk soal kebutuhan sehari-hari dikatakan kurang, hanya mengandalkan menjahit, serta jualan snack untuk memenuhi kebutuhan anak, sambungnya.

“Tidak ada niatan membandingkan maupun berbelas kasih kepada sesama,namun punya keinginan angan-angan untuk anak didik kami, salah satunya, menambah Al-Qur’an,memiliki seragam memacu semangat anak-anak untuk mengaji, selain itu guna menunjang pendidikan lebih modern, ingin membeli layar proyektor namun belum kesampaian,” ujar Slamet.

Sambungnya, bermodalkan Ilmu Agama yang dia peroleh dari pondok pesantren, ingin mengajar dengan tambahan gaya tren anak muda sekarang semua serba genset, tujuan anak agar tidak jenuh buat motivasi biar semangat.

Dia mengaku sudah puluhan tahun menjadi guru ngaji. Nawaitu Semua hanya karena Allah semata.

Dirinya berharap semoga ada kepedulian dari pemerintah serta para dermawan, untuk menunjang pendidikan anak lebih layak.

“Saat ini mengajar 20 anak disini,setelah magrib sampai isya,” imbuh Slamet.

Saat awak media metrorakyat.com menanyakan, apa selama ini mendapat bantuan dari pemerintah, dan dirinya menjawab belum pernah ada.

“Belum pernah bantuan dari pemerintah yang menyentuh kami. Jadi kalau adapun kami hanya bisa berdoa,jika ada Alhamdulillah,” tandas Slamet.

Saat malam tasyakuran,diceritakan, peringatan HUT RI ke 76, anak-anak yang ikut mengaji di ajak sodaqoh secara ikhlas, untuk gotong royong dengan uang modal Rp 1.000 untuk belikan jajanan buat selamatan.

“Ini sebagai wujud syukur kita kepada Allah, semoga apa yang dicita-citakan dan harapkan terkabul,tentunya mengajarkan kecintaan kita kepada tanah air indonesia,” ucap Slamet

Sementara itu, menurut penuturan Kepala Dusun boja Taryono, soal bantuan sosial itu yang mengatur adalah Pemerintah Pusat. Dirinya hanya bisa mengusulkan saja.

“Warga yang memperoleh bantuan adalah yang terdata dalam keluarga PKH, dan itu yang mengatur pemerintah pusat. Kami di desa hanya membantu penyaluran, tapi tidak bisa mengatur siapa yang dapat,” ujarnya kepada media.

Kadus menceritakan, memang Slamet sudah pernah datang bersama keluarganya dan menanyakan perihal bantuan ke rumahnya.

“Ada kesalahan pahaman menanyakan soal bantuan hingga bicara dengan nada tinggi, saat menanyakan kenapa tidak dapat bantuan,” ujarnya.

Ia pun menjelaskan, di Desa Tejorejo sendiri ada 3.000 lebih warga, yang dibagi dalam enam dusun.

“Desa Tejorejo sendiri ada 6 Dusun, Bantuan penerima anggaran dana desa ADD desa 170 penerima ,Sedangkan Dusun boja hanya dapat bantuan untuk 35 KK. Sehingga harus membagi dalam enam RT ,” paparnya. (Siva zou//mr)

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Breaking News