Investor Pemula Kenali Risiko Investasi di Pasar Saham
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Para investor pemula harus mampu mengenali profil para investor di pasar modal. Untuk melakukan investasi saham di pasar modal Indonesia kini sedang digandrungi oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pekerja, milenial hingga ibu rumah tangga.
Ini tentu didasari atas kemudahan bertransaksi saham yang bisa dilakukan dari rumah secara digital melalui transaksi online.
Demikian disampaikan Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Wilayah Sumut, Pintor Nasution melalui keterangan tertulisnya diterima metrorakyat.com, Sabtu (28/8/2021).
Lanjut dia, situasi bisnis di sektor rill yang cenderung tidak kondusif turut memacu booming-nya investasi saham. Karena, dana investasi yang sedianya dialokasikan ke sektor usaha, namun karena terjadi stagnasi akibat wabah pandemi Covid-19, bisa dialokasikan lebih dahulu ke instrumen saham.
Meski begitu, bagi investor pemula harus dapat mengenali dan mengidentifikasi profil risiko masing-masing sebelum memulai untuk memilih produk investasinya. Kenali risiko dulu agar tetap nyaman dalam berinvestasi di pasar modal. Lalu, apa hubungan antara risiko dan kenyamanan?
“Nah, jawabannya y ini. Jika seorang investor tidak siap menghadapi risiko jangka pendek ketika mengalami kerugian investasi (capital loss) di pasar saham, maka hal tersebut akan mengakibatkan trauma atau kapok bagi investor untuk berinvestasi kembali,” pungkasnya.
Ada tiga karakter investasi pemodal atau disebut juga profil risiko, yaitu konservatif (risk averter), moderat, dan agresif (risk taker).
“Kita harus mencari tahu dulu, kita merupakan tipe investor yang seperti apa. Ada beberapa versi kuesioner yang umumnya disiapkan perusahaan sekuritas tempat investor membuka rekening saham untuk mengidentifikasi profil risiko calon investor,” papar dia lagi.
Penentuan tingkat risiko ini sejalan dengan prinsip “high risk, high return, low risk, low return”. Jika seorang investor tidak berani menanggung risiko yang besar, maka hasil investasinya pun akan relatif rendah. Sebaliknya, hasil investasi tinggi berpeluang untuk diterima sang risk taker yang siap menerima risiko tinggi pula.(MR/156).
