oleh

Data BPS Sumut, Harga Tukar Petani Menurun

METRORAKYAT.COM, SUMUT – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, jumlah luas panen padi tahun 2020 sebesar 388,59 ribu hektar, mengalami penurunan seluas 24,55 ribu hektar atau 5,94 persen bila dibandingkan 2019 sebesar 413,14 ribu hektar.

Hal itu disampaikan Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi lewat live streaming, Senin (22/3/2021) di Medan. Dimana produksi padi 2020 sebesar 2,04 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) mengalami penurunan sebanyak 38,40 ribu ton atau 1,85 persen dibandingkan 2019 sebesar 2,08 juta ton GKG.

“Kalau dilihat dari subround (empat bulanan) terjadi penurunan produksi padi di subround Januari-April dan periode September-Desember 2020, masing-masing sebesar 11,57 ribu ton GKG (-1,35 persen) dan 54,47 ribu ton GKG (9,59 persen) dibandingkan 2019. Peningkatan terjadi di subround Mei-Agustus, sebesar 27,64 ribu ton GKG (4,24 persen),” paparnya.

Apabila dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras 2020 sebesar 1,16 juta ton, mengalami penurunan sebesar 21,91 ribu ton atau 1,85 persen tahun 2019 sebesar 1,18 juta ton, imbuhnya.

“Selanjutnya potensi produksi padi pada subround Januari-April 2021 diperkirakan sebesar 0,95 juta ton GKG, naik sebesar 0,10 juta ton atau 12,57 persen dibandingkan subround sama di 2020 sebesar 0,85 juta ton GKG,” ungkap dia.

Sebagai data sambung, Suhaimi berdasarkan kerjasama BPS dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN), Badan Informasi dan Geospasial (BIG), serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sejak 2018 dengan melakukan penyempurnaan penghitungan luas panen dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).

KSA akan memanfaatkan teknologi citra satelit berasal dari LAPAN  dan digunakan BIG untuk mendelineasi peta lahan baku sawah yang divalidasi serta ditetapkan oleh Kementerian ATR/BPN untuk mengestimasi luas panen padi.

“Penyempurnaan dari berbagai tahapan penghitungan produksi beras sudah dilakukan secara komprehensif tidak hanya luas lahan baku sawah juga perbaikan penghitungan konversi gabah kering menjadi beras,” ujarnya.

Selanjutnya, di tingkat petani harga GKG di bulan Januari 2021 turun 6,23 persen dan Gabah Kering Panen (GKP juga turun. Tercatat Januari 2020, harga tertinggi senilai Rp6.300 per Kg berasal dari gabah kualitas GKG varietas IR di Serdang Bedagai.
Di sisi lain, harga terendah senilai Rp4.200 per Kg berasal dari  Gabah Kualitas Rendah varietas Inpari 32 dan Ciherang di Kabupaten Batu Bara dan Gabah Kualitas GKP Varietas Lokal di Kabupaten Mandailing Natal.

Untuk tingkat penggilingan Januari 2020, harga tertinggi senilai Rp6.363 per Kg berasal dari gabah kualitas GKG varietas IR di Serdang Bedagai. Sedangkan harga terendah senilai Rp4.250 per Kg berasal dari Gabah Kualitas Rendah varietas Inpari 32 dan Ciherang di Kabupaten Batu Bara, dan Gabah Kualitas GKP Varietas Lokal di Kabupaten Mandailing Natal.

“Maka rata-rata harga gabah kelompok kualitas GKG di tingkat petani mengalami penurunan sebesar 6,23 persen dari Rp5.713 per Kg pada Desember 2020 menjadi Rp5.357 per Kg pada Januari 2021. Kelompok kualitas GKP mengalami penurunan 1,81 persen dari bulan sebelumnya sebelumnya yaitu Rp4.688 per Kg menjadi Rp4.603 per Kg,” ucapnya.

Sedangkan rata-rata harga gabah kelompok kualitas GKG di tingkat penggilingan terjadi penurunan sebesar 6,28 persen dari Rp5.808 per Kg per Desember 2020 menjadi Rp5.443 per Kg pada Januari 2021. Kelompok kualitas GKP mengalami penurunan 1,63 persen bulan sebelumnya dari Rp4.741 per Kg menjadi Rp4.664 per Kg,” katanya menutup. (MR/156)