Pengguna Jembatan Gantung Kota kapur- Air Pandan Heran di Papan Pemberitaan Ada Tertulis Roda 4 Dilarang Melintasi Kecuali Ambulance?
METRORAKYAT.COM, MENDO BARAT BANGKA – Jembatan gantung penghubung antara Desa labuh air pandan dan Desa kota Kapur merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat yang selama ini di nantikan.
Jembatan gantung yang di bangun dengan anggaran Rp 3.475.016.000 dengan masa kerja 150 hari kalender yang di mulai Juli hingga Desember 2020 dengan panjang bentangan 96 meter dan langsung di resmikan oleh gubernur kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Roesman.
Di setiap memasuki areal jembatan ada papan pemberitahuan mengenai tata cara melintasi jembatan oleh kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat Direktorat Jenderal Bina Marga Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Bangka Belitung.
Pemberitahuan Tata Cara Melintas Jembatan Gantung:
- Harus antri berurutan jumlah
maksimal 40 orang pada waktu
yang bersamaan dan tidak boleh
berkelompok. - Dilarang bermain main, berlari dan
berpoto (selfie) diatas jembatan. - Jangan bersandar pada jembatan
- Anak anak diwajibkan dalam
pengawasan orang dewasa ketika
melintasi - Dilarang menyerang pada saat
hujan deras/banjir - Menjaga kerapihan dan kebersihan
diarea jembatan gantung - Roda 4 (empat) dilarang melintasi
kecuali ambulance.
“Di poin ke tujuh ada kejanggalan yang mana roda 4 (empat) dilarang melintasi kecuali ambulance”.
Salah satu warga yang saat itu sedang melintasi jembatan heran juga dengan tulisan no 7 tersebut.
“Bagaimana mau melintasi kendaraan roda 4 lebarnya jembatan saja tidak sepadan dengan roda 4,”cetus warga sambil bertanya ambulance nya seperti apa hingga bisa melintasi jembatan,”ujar warga Jumat. (05/02/2021)
Untuk kendaraan roda 2 saja sulit dilalui karena harus hati-hati sebab jembatannya goyang.
“Jadi gimana mobil ambulance bisa diperbolehkan lewat,”ungkap warga yang keheranan.
Berbeda oleh kalangan remaja saat di konfirmasi mengambil back ground photo di atas jembatan mengatakan bagi warga, jembatan tersebut bagus menjadi kebanggaan mereka yang tinggal di kampung.
“Karena tempat ini, jadi kami buat sebagai hiburan di kampung, kok dak boleh photo di jembatan lagian dak mungkin pula kami lari-lari di jembatan ini takut pulak jembatannya goyang,”ujar warga tersebut. (MR/TIM)

