oleh

OJK Perpanjang Restrukturisasi Kredit Maret 2022, di Masa Pandemi

SHARE
62 views

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah resmi memperpanjang restrukturisasi kredit hingga Maret 2022. Kebijakan tersebut berharap dapat meringankan beban debitur di masa pandemi Covid-19, sehingga bisnis bisa berjalan dengan baik. Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK Bambang Widjanarko menjelaskan bahwa salah satu alasan perpanjangan restrukturisasi di masa pandemi yang belum berakhir.

Akan tetapi dia mengingatkan kebijakan ini tidak berlangsung selamanya, untuk menghindari moral hazard yang muncul di kemudian hari.
Jika debitur mampu mengatasi atau selamat juga terus melakukan aktivitasnya maka ekonomi bisa terus berjalan, apalagi jika sebelumnya bagus dan hanya terkendala Covid-19 ini.

Berharap langkah ini dapat membantu perbankan untuk menata kinerja keuangannya terutama dari sisi mitigasi risiko kredit.

“Sehingga untuk mengantisipasi dampak lanjutan kita juga harus melihat banknya, Covid-19 belum ketahuan kapan berakhir sehingga stimulus masih dibutuhkan. Yang diatur adalah sama dengan POJK 11, penetapan kualitas kredit kemudian kualitas lancar bagi yang direstrukturisasi, tetapi ada juga ditambahkan tentang penerapan manajemen risiko,” beber Bambang melalui konferensi pers secara virtual, Jumat (26/02/2021).

Disampaikan dia, ada beberapa tujuan dari perpanjangan restrukturisasi, yakni bagaimana optimalisasi kinerja perbankan, sehingga bisa melanjutkan upaya perbaikan.
Kemudian menjaga stabilitas sistem keuangan, terlebih di masa kondisi pandemi Covid-19 belum selesai, maka stabilitas perlu dijaga sehingga POJK ini diperpanjang.

Selain itu perpanjangan restrukturisasi juga dibutuhkan sebagai pendukung pertumbuhan ekonomi dengan menerapkan prinsip kehati-hatian,sehingga perlu ditingkatkan manajemen risiko di perbankan.

“Kemudian untuk menghindari adanya moral hazard jangan sampai policy ini dianggap yang sifatnya permanen. Tapi sifatnya sementara, kondisi tersebut semuanya sementara dan bisa dikatakan kondisi secara Covid-19 hingga sekarang belum selesai,” imbuhnya.

Kebijakan restrukturisasi kredit perbankan dan perusahaan pembiayaan juga terus berjalan dan hingga 8 Februari 2021, restrukturisasi kredit perbankan sudah mencapai Rp 987,48 triliun dari 7,94 juta debitur.

Sektor UMKM mencapai 6,15 juta debitur dengan nilai sebesar Rp 388,33 triliun. Sementara non UMKM mencapai 1,79 juta debitur dengan nilai Rp 599,15 triliun.

Restrukturisasi perusahaan pembiayaan hingga 8 Februari sudah mencapai Rp193,5 triliun untuk 5,04 juta kontrak yang disetujui.

Perpanjangan restrukturisasi hingga Maret 2022 ini dilakukan dengan rilisnya POJK Nomor 48 /POJK.03/2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 Tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

Sebelumnya, pada Maret 2020 OJK telah menerbitkan POJK Stimulus COVID-19 yang berlaku sampai dengan 31 Maret 2021 sebagai quick response dan forward looking policy atas dampak penyebaran COVID-19.

Dengan terbitnya POJK 48/POJK.03/2020 ini maka kebijakan stimulus ini akan berlaku sampai dengan tanggal 31 Maret 2022, katanya mengakhiri. (MR/156)

Breaking News