Akses Jalan Masyarakat Belawan Bahari Ditimbun Limbah Kulit Kerang Hasil Pencarian Di Laut
METRORAKYAT.COM, BELAWAN – Perseteruan masalah sengketa lahan yang dihibahkan saudara Mujianto dengan luas tanah 25*573,24 M2 atau 13.431 M2 dari tanah yang dipecah dari luas 109.172 M2 sesuai dengan SHM Nomor : 720 kepada Masyarakat Belawan Bahari, yang diduga diserobot oleh P.T STTC, masih menjadi banyak pertanyaan besar. Senin (25/01/2021).
Apa sebenarnya yang menjadi dasar pertimbangan dan permasalahan antara masyarakat Belawan Bahari, sehingga mati-matian mempertahankan lahan tersebut.
Untuk mengetahui persoalan yang terjadi, tim media datang ke lingkungan masyarakat, perkampungan nelayan tersebut.
Alangkah terkejutnya tim media, melihat kondisi lingkungan masyarakat, yang jauh disebut layak huni. Selain sepanjang jalan dan pekarangan rumah yang ditimbun oleh kulit kerang, guna mencegah genangan banjir rob dari laut yang datang setiap minggunya.
Rumah masyarakat yang sebagian terbuat dari kayu dan papan, istilahnya rumah panggung, terlihat rapuh terkikis air laut, juga pencaharian penduduk sehari-harinya sebagai nelayan pencari kerang, jauh dikatakan sebagai penghidupan yang layak dan mencukupi.
Dengan adanya limbah kulit kerang dari hasil pencarian masyarakat, digunakan menimbun jalan dan pekarangan rumah, karena akses jalan untuk mencapai lingkungan seberang(tepatnya dibelakang tembok PT STTC), tidak dapat dilalui warga karena terputus dan diblokir oleh pihak PT STTC.
“Ini memang kulit kerang lah untuk penimbunan jalan dan rumah rumah masyarakat disini, karena kalau dahulu akses jalan susah, adapun akses jalan yaitu terkendala dengan jembatan yang putus, yang disana didepan PT STTC ditutup, jadi Masyarakat ya hanya menimbun dengan kulit kerang hasil pencarian mereka dari laut,” kata Amin Warga Kelurahan Belawan Bahari.
Senada hal itu, Seorang warga bernama Surono, mengatakan, mereka hanya ingin tanah yang menjadi hak kami dikembalikan, karena akses ditutup sehingga rumah mereka semakin banjir oleh pasang air laut.
“Kami minta hak kami, dan pemerintah harus mendengar rakyatnya yang susah, Minta perusahaan, tolong buka jalan itu, kalau gak swadayakan kami, ini kami pake swadaya sendiri, kerang kami timbun, tolong lah pada perusahaan, tolonglah akses jalan kami yang ditutup PT STTC kami minta untuk dibuka,” tandas Surono.(mr/aril)
