oleh

Makna Hari Pahlawan Dimasa Pandemi Covid-19

SHARE
285 views

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata Pahlawan iayalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, termasuk pejuang yang gagah berani. Sementara itu, Arti Kata kepahlawanan perihal sifat Pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan ke satriaan.

Pemerintah menetapkan hari Pahlawan jatuh pada tanggal 10 November setiap Tahunnya. Latar belakang hari Pahlawan tersebut dari Perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Meskipun saat itu kemerdekaan telah berkumandang dibumi Nusantara. Berjuang hingga titik darah penghabisan. Merdeka atau Mati. Kalimat pembangkit semangat yang di ucapkan Bung Tomo saat itu. Pahlawan di masa lalu adalah orang yang rela memperjuangkan kemerdekaannya. Rela menyerahkan nyawanya. Berani membela kebenaran demi tegaknya Negara Indonesia.
Berbeda dengan dulu, saya mengartikan pahlawan di masa sekarang adalah orang yang rela mengorbankan kepentingannya demi orang lain. Siapapun dapat menjadi pahlawan. Tak perlu harus membawa bambu runcing dan senjata api. Seseorang yang mau menolong orang lain juga dapat disebut pahlawan. (kompasiana).

Dimasa pandemi Corona Virus Desease-2019 (Covid-19) yang telah menyebar dan menyerang hampir diseluruh penjuru dunia, telah membuat banyak umat manusia menjadi ketakutan. Ketakutan itu sudah sampai mempengaruhi psikologi masyarakat tentang dihantui oleh kematian akibat terpapar Covid-19. Sehingga diawal pandemi Covid-19 melanda dunia sekitar awal Tahun 2020 sampai April 2020, telah menimbulkan ketakutan luar biasa bagi seluruh umat manusia.
Akibat ketakutan dan kepanikan manusia ditambah ketidaktahuannya tentang Covid-19, akhirnya, para penderita Covid-19 yang terpapar atau positip akan dianggap sebagai kutukan pada diri penderita itu sendiri. Sampai akhirnya seluruh negara termasuk indonesia menerapkan aturan kepada masyarakat antara lain agar memakai masker disaat keluar rumah, menghindari kerumunan, dan menjaga kesehatan diri sendiri dengan rajin mencuci tangan dan mengkonsumsi makanan bergizi.

Akibat pandemi Covid-19 sangat banyak mempengaruhi kehidupan manusia, temasuk juga perekonomian. Banyak perusahaan yang telah meliburkan atau merumahkan karyawannya karena takut tertular Covid-19. Sementara perusahaan pemerintah dan swasta menerapkan sistem kerja Work From Home (WFH). Ini juga terjadi di bidang pendidikan, mulai dari sekolah dasar SD, SMP, SMA, sampai ke tingkat perguruan tinggi, diterapkan sistem belajar daring dan Work From Home.

Perekonomian beberapa negara mulai merosot, akibat lumpuhnya berbagai sektor usaha, bisnis travel dan penerbangan termasuk juga perdagangan domestik dan luar negeri harus merasakan dampak dari pandemi Covid-19 tersebut. Banyak anggaran terkuras untuk penanganan percepatan penanggulangan wabah Covid-19 tersebut.

Presiden Jokowidodo bersama menteri dan kabinetnya terus berupaya agar masyarakat Indonesia dapat terhindar dari wabah Corona Covid-19 yang sudah banyak memakan korban jiwa tersebut. Berbagai upaya dilakukan yakni dengan mengerakkan seluruh tenaga kesehatan mulai dari perawat, dan dokter untuk merawat para penderita Covid-19 yang sudah mencapai ratusan. Bahkan rumah sakit untuk perawatan isolasi bagi para penderita Covid-19 pun sudah penuh, sampai akhirnya pemerintah mengambil inisiatif bekerjasama dengan pisah swasta untuk memakai fasilitas gedung. Selain itu, karena jumlah korban meninggal dunia akibat Covid-19 terus bertambah, pemerintah juga dengan kemampuannya menyiapkan pekuburan massal khusus korban Covid-19 yang meninggal dunia.

Para Tenaga Kesehatan (Petugas Medis) dapat dikatagorikan sebagai Pahlawan selama Pandemi Covid-19

Para petugas Medis dalam hal ini dapat juga dikatakan sebagai Pahlawan. Dimana, selama wabah Covid-19 yang telah dijadikan bencana nasional oleh Pemerintah menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan kepada para pasien yang positip Covid-19. Kepahlawanan yang ditunjukkan oleh dokter maupun petugas medis (tenaga kesehatan), mereka siap 24 jam untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada para pasien Covid-19 diruang isolasi. Bahkan, para petugas medis (tenaga kesehatan) ini pun tidak boleh pulang kerumah selama bertugas. Hal ini juga untk menjaga agar keluarga mereka (para petugas medis-red) dipastikan tidak tertular wabah Covid-19 yang di khawatirkan dapat dibawa oleh para petugas tenaga kesehatan yang menangani para pasien Covid-19 di rumah sakit tempat mereka bertugas.

Dihimpun dari Al Jazeera (13/7/2020), disebutkan, sejak pandemi Corona, lebih dari 3000 tenaga kesehatan diketahui meninggal karena virus Corona SARS-CoV-2 di seluruh dunia.

Sementara itu, menurut data yang ada dari Gugus Tugas Covid-19, disebutkan sebanyak 55 tenaga Medis meninggal dunia saat pandemi Corona berlangsung. Dilansir dari tirto.id, Tim Percepatan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 mencatat ada 55 tenaga medis yang meninggal selama pandemi Covid-19 berlangsung. Ke-55 tenaga medis tersebut terdiri atas dokter dan perawat. ” Hingga saat ini, ada sekitar 38 dokter dan 17 perawat meninggal,”kata Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Wiku Adisasmito saat memberikan pernyataan kepada media asing secara daring, Rabu (6/5/2020) lalu.

Kata Wiku, penyebab dari kematian para tenaga medis ini disebabkan, para tenaga medis belum menyadari kalau mereka menangani pasien Covid-19. Sikap pasien saat dirawat tidak terbuka dengan penyakit maupun sejarah perjalanan sehingga protokol kesehatan tidak diterapkan dengan baik. Kedua, sejumlah petugas Medis meremehkan penyakit Covid-19 saat menangani pasien. Ketiga adalah penyalahgunaan alat pelindung diri. Keempat adalah kelelahan akibat bekerja melebihi jam kerja dan faktor terakhir yakni ketidakmampuan tenaga medis dalam menangani pasien saat mengalami gawat darurat.

Wiku mengatakan Pemerintah turut berduka atas meninggalnya para tenaga medis tersebut. Melihat banyaknya tenaga medis yang meninggal, pemerintah menjadikan sebagai pekerjaan rumah agar jumlahnya tidak terus bertambah.

Adaptasi Kebiasaan Baru di Masa Pandemi Covid-19

Untuk memutus mata rantai penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19) seluruh pemerintah daerah kabupaten/kota menerapkan peraturan baru Adaptasi Kebiasaan Baru di masa pademi Covid-19. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir sekaligus memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ditengah-tengah masyarakat. Ini dilakukan, karena hasil amatan pemerintah, masih banyak masyarakat yang merasa bahwa pandemi Covid-19 tersebut tidak ada, sementara jumlah penderita Covid-19 akibat tertular terus bertambah.

Disinilah peran masing-masing dari setiap individu untuk bisa menjaga diri sendiri dan keluarga agar dapat terhindar dari bahaya tertular Virus Covid-19.

Dalam hal ini, kita diminta untuk bersikap seperti pahlawan yang rela berkorban demi kepentingan orang lain, menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah bahwa memberikan keyakinan kepada keluarga sendiri dan orang lain bahwa virus Covid-19 itu benar adanya, dan korban-korbannya sudah ada. Berani maksudnya adalah tidak takut dalam mensosialisasikan bahaya Virus Corona (Covid-19) ditempat-tempat umum yang ramai kerumunan dan belum mematuhi peraturan kesehatan.

Dengan mengikuti semua peraturan kesehatan (Prokes) di saat pandemi Covid-19 dengan baik seperti memakai masker jika keluar, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan dengan sabun, diharapkan akan dapat memutus mata rantai penyebaran Virus Covid-19.

Mematuhi Prokes berarti kita bisa menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain termasuk juga bagi keluarga terdekat kita. (Irwan)

Breaking News