Vandiko T Gultom Serap Aspirasi Pedagang Pasar Pangururan Samosir
METRORAKYAT.COM, SAMOSIR – Vandiko Timotius Gultom berbincang dengan pedagang Pisang di Pasar Tradisional Pangururan Samosir.
Vandiko Gultom targetkan Jalan Rusak perbaikan awal, memudahkan pengurusan KTP/KK dan Akte Lahir melalui mall pelayanan publik.
Calon Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom serap aspirasi pedagang pasar tradisional Pangururan Samosir, Jumat (9/10/2020).
Memasuki pasar dari Jalan Putri Lopian Pangururan disambut hangat para pedagang. Teriakan dukungan digaungkan pedagang dari lapak mereka sendiri. Lantaran suasana pasar yang ramai pengunjung, beberapa pedagang pun berkesempatan memaksakan diri selfi bersama.
Lapak demi lapak dikunjungi Vandiko Gultom guna menampung langsung aspirasi pedagang.
“Becek terus ya bu. Gimana jualannya bu,” tanya Alumni ITS Surabaya ini kepada pedagang.
Secara serentak pedagang mengaku cukup terpuruk akibat pandemi Covid-19. Pasar sempat sepi pengunjung, membuat dagangan mereka kurang laku. Parahnya lagi, bantuan dalam bentuk apapun tidak pernah didapatkan pedagang dari pemerintah termasuk masker.
Seperti diungkapkan pedagang buah, daging Sinurat. Menurutnya, sejak pandemi, penjualan para pedagang di pasar terus mengalami penurunan, namun saat ini sudah mulai ramai.
“Mirisnya sambung dia, selama pandemi Covid-19 bantuan tidak pernah kami dapat. Solusi untuk mengatasi masalah ini pun tidak ada diberikan pemerintah,” tegasnya.
Salah seorang pedagang sayuran, boru Simbolon pun mengungkapkan hal serupa.
Kondisi para pedagang, semakin terpuruk lantaran kondisi pasar yang selalu becek, tidak ada kerapian (semraut).
Vandiko Gultom pun berjanji kepada pedagang, akan membenahi pasar dan drainasenya. Lantaran menurut dia, pasar tradisional Pangururan sangat terlihat kumuh.
Mewakili pedagang berharap saat menjadi Bupati Samosir, bisa membenahi seluruh pasar tradisional di Samosir.
“Sehingga tidak ketinggalan dengan pasar di luar Samosir seperti Medan, pulau Jawa dan agar menjadi pasar layak dan berkah,” bebernya.
Sambung boru Simbolon menjelaskan tentang pasar yang tidak cukup menampung semua pedagang. Sehingga, banyak pedagang menggelar lapak di sisi jalan. Para pedagang ini, lanjut dia, dipungut biaya retribusi cukup mahal, pada hal becek, kumuh.
“Jika dihitung, dari penghasilan tidak cukup untuk menyekolahkan anak-anak apalagi sampai kuliah, bebernya lagi. Harus ada perbaikan yang dilakukan untuk pasar dari dana yang dikutip. Tapi kondisi pasar dari tahun ke tahun tetap sama saja,” imbuhnya. (MR/ JB Rumapea)
