Hearing Seminar Sehari, Memilih Wakil Rakyat Menjadi Masyarakat Kota Medan
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan mengadakan Hearing Seminar Sehari di Medan Club, Jalan R.A Kartini, No.36, Kota Medan, Selasa (11/12/2018) sekitar pukul 14.00 WIB.
Narasumber pada seminar tersebut, Prof Dr. Katimin M.Ag (akademisi), Dr. H. Sahyan Asmara (mantan deputi Kemenpora) dan pengamat politik Dr. Warjio. Turut hadir, Ketua Komisi A, H. Sabar Syamsurya Sitepu S.I.Kom, Ketua Fraksi P Demokrat Drs. Herri Zulkarnain Hutajulu, SH.,MSi, M. Nasir, H. Ahmad Arief, Zulkarnain Yusuf Nasution, H Bahrumsyah, Drs. Wong Chun Sen, Tengku Eswin, Sekwan Abdul Aziz dan lainnya. Sementara Walikota Medan diwakili Asisten Umum Iwan Habibi Daulay, SH.MHum.
Wakil Ketua DPRD Medan Burhanuddin Sitepu SH mengatakan, anggota DPRD Medan dan penyelenggara pemilu harus memberi pengertian kepada masyarakat agar ikut memilih pada pileg dan pilpres. Karena, betapa perlunya kesungguhan masyarakat dalam memilih sosok pemimpin yang benar-benar dipilih sesuai hati nurani.
” Memilih wakil rakyat yang menjadi dambaan masyarakat Kota Medan. Artinya, segala tindakan, perbuatan, omongan dan tingkah laku tokoh tersebut bisa jadi panutan masyarakat. Operasional, melengkapi sarana prasarana, mengadakan pertemuan dengan masyarakat harus ada biaya. Tidak mungkin setiap pertemuan dengan caleg difasilitasi dan dibiayai oleh masyarakat,” kata Ketua DPC P Demokrat Medan ini.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Medan, H. Bahrumsyah mengatakan, seharusnya jangan sampai lahir caleg dalam pileg ini. Terdapat anak-anak pejabat yang ikut bertarung pada pemilu 17 April 2019.“Seperti anak Kepala Daerah, anak mantan Kepala Daerah, anak Camat. Karena, omongan Kepala Daerah dan Camat masih berlaku bagi Lurah dan Kepling untuk mengamankan caleg tersebut,” terang Bahrumsyah yang juga Ketua DPD PAN Kota Medan ini.Di tambahkannya, selain caleg yang masih berusia 21 tahun hendaknya jangan dulu mencalonkan. Perlu ada tenggang waktu, di masa remaja sampai usia 40 tahun untuk mengisi pengalaman.
“ Jika sudah berusia 40 tahunan, pengalaman seseorang itu sudah ada untuk terjun ke dunia politik. Untuk jadi pemimpin tidak bisa instant, perlu proses panjang dengan membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman,” pungkasnya. (MR/A06)

