Bertemu Asmiati, Pembuat Putu Bendera Asal Barus

Bertemu Asmiati, Pembuat Putu Bendera Asal Barus
Bagikan

METRORAKYAT.COM, TAPTENG  – Asmiati Tanjung (48), ibu rumah tangga, merupakan warga kampung Solok, desa Solok, Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah. Asmiati adalah seorang pembuat Kue. Salah satu kue yang unik berasal dari Barus, Putu Bendera namanya. Kue musiman disaat menjelang hari Lebaran tiba, semakin sulit ditemukan.

“Kue Putu Bendera ini kami produksi sudah turun-temurun dari nenek moyang kami dulu, banyak memang yang tahu membuat kue ini dulu, tetapi sekarang tinggal keluarga kami aja yang buat Putu Bendera ini,” katanya.

Asmiati bercerita, setiap menjelang Lebaran Idul Fitri atau Tahun Baru para pemesan akan mulai ramai berdatangan. Tidak saja warga sekitar, pemesan juga kerap datang dari luar kota.

“Ya kalau udah orang Barus, tahu betul dia sama Putu ini. Kadang ada juga yang pesan dari luar daerah, tapi biasanya mereka asli Barus,” katanya.

Asmiati istri yang ditinggal mati suaminya sekitar Lima Tahun silam. meninggalkan tiga orang Putri hasil dari pernikahan mereka, yang harus di perjuangkan ibu paruh baya ini, tangguh bercampur salut.

Asmiati punya sembilan bersaudara keturunan ibu Hj, Faojiah. Asmiati wanita separoh baya ini  jadi tulang punggung dari keluarga kecilnya. Ia satu-satunya yang mengikuti jejak pembuat Putu Bendera yang sudah turun-temuru dari nenek moyangnya .

“Resep yang di gunakan tidaklah susah didapat,” terangnya.

Bahan-bahan yang di perlukan cuma tepung beras, tepung beras ketan dan gula pasir, pewarna makanan dan pengharum yang bernama Vanilli. Proses pembuatan Putu Bendera harus melihat cuaca juga, sebab Putu Bendera ini setelah di kukus akan di jemur di bawah terik matahari agar kering dan tidak lapuk.

“Makanya harus melihat cuaca dulu,” papar Asmiati.

Soal ketahanannya, Putu ini juga cukup baik karena bisa bertahan sampai tiga bulan lamanya. Putu Bendera asal Barus ini tanpa pengawet dan bebas siapapun yang mengkomsumsinya.

Jangan salah, meski berbentuk unik Putu Bendera ini dari sisi harga tidaklah mahal. Asmiati membandrol Putu ini dengan harga Rp70 ribu per kilogramnya.

Pembuatan Putu Bendera cuma dilakukan hari besar saja, cotohnya, Lebaran Idul Fitri dan Tahun Baru, kalau hari biasa tidak ada yang buat jelas asmiati.

Putu Bendera khas barus ini, menurut Asmiati telah sejak jaman Kerajaan dan terus bertahan sampai sekarang. Hal itu turut dibenarkan Faojiah, ibu Asmiati yang dihubungi menggunakan telepon.

“Itu ala lamo, dari cici nini dulu, itu jaman masih kerajaan dulu itu, umak sajo masih ketek dulu, nini uma sajo dulu pambuek kue putu benderatu, makonyo kecekan samo urang wartawantu, kue bendera tu ala turun temurun dari orang tuo kito dulu. (Itu sudah lama, dari nenek moyang kita dulu, itu masih jaman kerajaan dulu itu, ibu saja masih kecil dulu, kue itu sudah diproduksi oleh nenek dari ibu mama dulu, makanya bilang saja sama wartawan itu, kue putu Bendera itu adalah kue sudah turun temurun dari nenek moyang kita dulu),” ujar Faojiah berlogat bahasa pesisir dari balik telepon.

Meski tak dapat dipastikan, diprediksi Putu ini erat kaitannya dengan keberadaan Bendera Indonesia. Hal itu terlihat dari warna merah dan putih yang menjadi ciri khas Putu ini, serta penamaannya.(MR/RM).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.