Berawal Dari Amputasi Jempol Tangan, Nelayan Asal Lubuk Tukko Derita Badan Hingga Melepuh

Berawal Dari Amputasi Jempol Tangan, Nelayan Asal Lubuk Tukko Derita Badan Hingga Melepuh
Bagikan

METRORAKYAT.COM | TAPANULI TENGAH –  Warga masyarakat Lubuk Tukko, Kelurahan Lubuk Tukko Baru, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah yang berprofesi sebagai nelayan di sebuah kapal di Sibolga, Sumatera Utara mengalami musibah kerja satu bulan yang lalu, yang mengakibatkan tangan sebelah kanannya (jempol) patah akibat tertimpah sebongka es pendingin ikan yang hendak di bawa melaut.

Etduar Hutagalung (56), warga Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Pandan, Tapanuli Tengah (4/3/18) lalu, setelah mendapatkan perawatan dari dokter Nanda Ahli  bedah di RSUD Pandan. Etduar Hutagalung setuju akan usul dari pihak dokter untuk diamputasi  jari jempol tangan sebelah kanan yang sudah remuk gara-gara tertimpa balok es ikan sewaktu bermuat (melakukan kerjaan) di tempat kerjanya.

“Ironisnya, bukan malah sembuh, Etduar Hutagalung malah menanbah rasa sakit di sekujur tubuhnya, dikarenakan keterangan Dokter Munaksir juga berstatus Dokter bedah di Rumah Sakit Pandan tersebut mengambil alih dari dokter Nanda yang pertama kali menangani Etduar hutagalung paska kejadian yang menimpa dirinya,” kata Kasmaniar Napitupulu (49), istrinya Etduar Hutagalung.

Menurut keterangan dari Munaksir, Dokter spesialis bedah RS Pandan mengatakan, kepada istri korban bahwa tidak pernah ada pasien yang alergi dengan obat yang diberikan Dokter.

“Gak pernah ada pasien yang merasa elergi sama obat dari Dokter. Ibu tenang, akan kita ganti obatnya dengan resep yang baru,” kata Dokter spesialis.

Kepada Dokter, Istri korban terus menanyakan obat yang diberikan untuk suaminya saat Dokter sebelumnya memberikan obat yang di sebutkan oleh Dokter Munaksir.

“Tidak ada perubahan dari resep sebelumya, tapi cuma obat vitamin yang berobah dari pertama yang di pakai obat vitamin LAPODION dan resep kedua obat Vitamin VIGARFIT cuma itu aja yang berbedah. Bukan makin sembuh, sakit yang di derita Etduar hutagalung, malah makin parah, awal pertama cuma sekedar gatal- gatal dan bintik merah yang muncul, resep yang kedua makin parah sekujur tubuh korban  merasakan panas bagaikan terbakar dan melepuh,” cetus sang istri korban.

Atas kejadian tersebut, istri korban melaporkan kembali dan membawa suaminya ke RSUD Pandan untuk penanganan lebih lanjut atas resep yang di berikan oleh Dokter Munaksir sebagai ahli bedah di RS tersebut.

Dalam hal ini, istri korban merasa was-was dan melaporkan kembali kepada Dokter munaksir yang menaganinya. Untuk yang ketiga kalinya, istri Etduar tidak melaksanakan perintah Dokter dikarenakan masih diberikan obat yang sama dan memutuskan tidak membeli lagi karena keadaan suaminya sudah cukup mengkawatirkan akan kondisinya sekarang ini.

Istri Etduar hutagalung merasa kecewa atas kinerja dari Dokter Munaksir dan hingga sampai sekarang ia tidak pernah bertemu lagi dengan Dokter.

“Kami pihak keluarga butuh penjelasan akan kejadian ini, apa memang ini alergi anti biotik atau malperaktek? dari dokter dan apa salah kasi resep obat? maka suaminya saya seperti ini. Zampai hari ini pihak dari rumah sakit sendiri belum ada yang mengabil tindakan atas kejadian ini. Kami sebagai pihak keluarga mengharapkan kejelasan dan pertanggungjawaban atas kejadian ini, dan saya berharap agar suami saya sembuh seperti sedia kala,” tutupnya. (MR/RM).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.