Dituduh Maling, Keponakan Wartawan Dikeroyok Warga Helvetia
METRORAKYAT.COM | MEDAN – Sandi Sinaga (17), dan Deni (16), warga Jalan Flamboyan II,Perumnas Helvetia Medan menjadi bulan-bulan warga di Jalan T.Amir Hamzah, Medan Helvetia, Sabtu, (22/7/17), dini hari.
Informasi diperoleh Senin (24//17), Sandi Sinaga mengatakan peristiwa main hakim sendiri yang dialami mereka dilakukan warga saat melintas dikawasan Jalan.T.Amir Hamzah (kawasan Griya Dome,red) Medan Helvetia.
Saat itu, korban melintas dari arah Jalan Karya hendak pulang ke kediamanya, tapi harus terhenti karena adanya razia yang dilakukan pihak Polsekta Helvetia. “ Kami ada tiga orang naik kereta baru pulang setelah keliling-keliling dan datang dari Jalan Karya, tapi pas masuk kawasan Griya dibawah jembatan ada razia polisi. Karena takut kami cari jalan masuk ke sebuah gang,” ucapnya.
Namun, sambung Sandi saat melawan arah dan memasuki gang sekelompok pemuda melintas dan meneriaki maling. “ Pas mau masuk gang ada yang teriak maling-maling,” ucap Sandi yang saat itu didampingi Pamannya, Romulo Sinaga.
Apes teriakan itu didengarkan oleh warga yang tanpa bertanya langsung melakukan tindakan main hakim sendiri. “ Kami langsung saja dipukuli warga rame-rame entah pakai apa saja karena gangnya gelap kali,” ucapnya.
Beruntung nyawa keduanya bisa selamat karena satu orang temanya meloloskan diri dan memberitahukan kepada keluarga. “ Ada teman kami yang tak sempat dipukuli langsung pergi panggil keluarga kami di Perumnas,” ucap Sandi.
Doly Siregar, salah seorang kerabat keluarga bersama beberapa tetangga pun langsung menuju lokasi, tapi sayangnya area lokasi sudah sepi. “ Kami sampai lokasi sudah sepi dan memang ada polisi yang bantu datang karena pas lagi ada razia. Dan keduanya kami larikan ke rumah sakit,” ucapnya.
Sandi dan Denny akhirnya dilarikan ke RS Sari Mutiara dengan kondisi yang lembam. Dimana, Sandi mengalami luka memar dipipi sebelah kanan dan dua giginya rontok. Sementara temanya Denny, hanya memar dan sempat muntah-muntah akibat pukulan. ” Si Deny temanku memang tidak ada luka, tapi muntah-muntah dan langsung dirawat di RS Sari Mutiara, baru Minggu diizinkan pulang dan sekarang dirawat dirumah,” kata Sandi.
Menyingkapi akan hal ini, Romulo Sinaga, paman korban menyanyangkan tindakan main hakim sendiri yang dilakukan warga. “ Keponakanku itu anak yatim dan baru tamat sekolah serta tidak pernah terlibat perbuatan kriminal apa pun. Kami dari keluarga sangat menyesalkan peristiwa ini yang seharusnya bisa bertanya terlebih dahulu, bukan langsung main hakim,” ucap wartawan salah satu media harian lokal ini.
Romulo mengatakan akan segera menempuh proses jalur hukum atas peristiwa yang menimpa keponakannya tersebut. “ Kita akan segera rundingkan persoalan ini setelah keduanya benar-benar pulih dari trauma untuk kita bawa ke jalur hukum. Ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya yang menyanyangkan tidak pekanya pihak aparat pemerintahan dalam hal Kepala Lingkungan (Kepling) saat itu.
Dewan Minta Camat Tegur Kepling
Menyingkapi kejadian tersebut, Roby Barus, anggota Komisi A DPRD Kota Medan yang membidangi hukum menyayangkan peristiwa tersebut dan meminta pihak Kecamatan segera menegur Kepala Lingkungan yang tinggal dilokasi kejadian. “ Dengan adanya peristiwa ini, bagaimana pun sangat kita sesalkan karena masih ada masyarakat yang secara sembrono main hakim sendiri. Dan dengan adanya peristiwa ini jelas kita melihat aparat Kepling tidak peka terhadap lingkungannya. Karena tidak ada tindakan yang dilakukan misalnya melarang warganya agar tidak mai hakim sendiri,” terang Politisi dari partai PDI Perjuangan ini.
Artinya, lanjut Robby, harus dilakukan kros cek terlebih dulu. Bagaimana kalau ada peristiwa besar teror dan lainya apakah masih tetap diam saja. Jadi kita desak Camat segera mengambil sikap, tegur Keplingnya, atau ambil tindakan lainya. Jangan ada pembiaran,” kata mantan Kepling tersebut.(MR10/red)
