Ada Motif Dibalik Tewasnya 4 Sekeluarga Akibat Kebakaran…
MetroRakyat.com | MEDAN – Motif dibalik pembakaran dan pembunuhan terhadap Marita Sinuhaji beserta anak dan dua cucunya diduga karena ada unsur dendam. Pasalnya, beberapa bulan sebelum kejadian, keluarga korban sempat terlibat perselisihan atas sebidang tanah dan rumah yang di tempati korban dengan seseorang yang diketahui bernama Mita. Perselisihan itu berujung di Pengadilan Negeri (PN) Medan (Kasus perdata). Mita yang menggugat korban atas tanah dan rumah korban, kalah. “Tanah dengan bangunan rumah di atasnya yang di tempati korban serta tiga unit rumah kontrakannya berdiri di atas rel lama kreta api. Secara otomatis tanah itu milik PT KAI. Namun dijual oleh Simita kepada korban,” kata P Simangunsong, tetangga korban.
Dalam perjanjian jual beli antara korban dengan Mita, sambung Simangunsong, ada kesepakatan pelunasan sisa pembayaran itu diberikan, setelah surat sertifikat tanah dikeluarkan. Namun, Mita selaku penjual tidak mampu memenuhi perjanjian itu, tetapi tetap meminta proses pelunasan tanah yang dijualnya. “Harga jual tanah itu dari Mita kepada korban nilainya Rp200 juta. Tetapi, korban baru memberikan Rp130 juta. Sisanya, Rp70 juta akan dilunasi setelah surat sertifikat tanahnya diserahkan. Nah, karena korban tidak mau melunasinya, Mita menggugatnya di PN Medan dan akhirnya kalah. Sebab, tak mungkin Lurah dan Camat menerbitkan surat tanah milik PT KAI itu sementara pihak PT KAI tidak menjualnya, itu namanya gantung diri,” ujarnya.
Tak lama setelah kekalahan Ibu Mita di Pengadilan, tambah Simangunsong, keluarga korban tiba-tiba mendapat ancaman terror berupa pembakaran, walau tiga kali sempat digagalkan warga. “Kami sempat menggagalkan tiga kali aksi pembakaran itu, sebab di sini (TKP) ada namanya jaga malam. Namun, kejadian yang keempat kalinya ini ada belasan pria bertopeng berbaris di sepanjang jalan mulai dari pintu hingga sekitar 20 meter sebelum rumah korban, mereka mempersenjatai dirinya dengan sajam,” sebutnya.
Kehadiran pria bertopeng itu, membuat warga yang melihat aksi pembakaran itu takut. Bahkan, sempat melemparnya. Akhirnya warga yang melihat kejadian itu bersembunyi didalam rumahnya menunggu para pria bertopeng itu pergi meninggalkan rumah korban. “Warga yang melihat itu yakni SS, sempat berteriak histeris sambil berjalan menuju rumah korban. Tetapi dilarang dan dihalangi, bahkan dilempar oleh pelaku agar tidak membantu korban,” terangnya.
Sekitar 30 menit kemudian, para pelaku pergi meninggalkan lokasi setelah memastikan keempat korban itu terpanggang didalam rumahnya. “Mungkin, kehadiran para pelaku di lokasi kejadian itu selain membunuh juga memastikan, rumah korban itu hangus terbakar. Setelah itu barulah mereka pergi meninggalkan lokasi,” ucapnya.
Tak berapa lama kemudian, Polisi tiba di lokasi kejadian untuk melakukan pengamanan dan membantu warga memadamkan api sebelum tim P2K tiba dilokasi. “Polisi baru tiba dilokasi sekitar 40 menit kemudian. Sementara tim P2K tiba sekitar pukul 6.00 WIB,” terangnya.
Sementara sejumlag polisi dari Polsek Delitua dan Polrestabes Medan masih berjaga-jaga di lokasi. Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Sandy Nugroho yang ditemui di lokasi enggan berkomentar. Begitu juga saat dihubungi melalui teleponnya tidak mersepon.
Selain Kapolrestabes Medan, para pejabat Polda Sumut lainnya juga seolah menutup mata dan tidak mau berkomentar. Sedangkan, dari informasi yang dapat dilapangan, pelaku diduga bersasal dari salah satu kelompok organisasi kepemudaan, yang disuruh oleh seseorang. (SIND/MR).



