Hari Ibu Sebagai Pengingat Semangat dan makna “IBU BANGSA”
METRORAKYAT.COM, Setiap kali memperingati hari Ibu yang identik sebagai hari ulang tahun pergerakan perjuangan perempuan Indonesia melalui wadah Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dari sejak tahun 1928, yang sebagaimana (sejarah telah mencatat) dan telah kita ketahui bersama bahwa umur Kowani jauh lebih tua dari umur kemerdekaan Republik Indonesia. Karena Kowani tumbuh dan bergerak serta berkiprah hampir bersamaan dengan Soempah Pemoeda.
Oleh karenanya Hari Lahir Kowani oleh Presiden Sukarno diberikan apresiasi yang sangat TINGGI sesuai dengan usulan Kowani pada tahun 1938 melalui Kongres ke III, sehingga memandang perlu untuk mengeluarkan Keputusan Presiden nomor 316 tahun 1959, dengan harapan, hari dan tanggal tersebut untuk di jadikan sebagai PRASASTI PENTING atau TONGGAK SEJARAH dalam kehidupan perjuangan negara pada umumnya dan bagi PARA WANITA pada khususnya, sehingga bukan sekedar hari untuk diperingati, diingat, dirayakan secara serimonial, namun ada PESAN yang ingin ditanamkan sebagai NILAI yang SAKRAL dan SARAT MAKNA, yakni JIWA dan SEMANGAT JUANG WANITA, dimana sejak 22 Desember tahun 1928 Kowani telah MULAI berjuang SEJIWA dan SELARAS dengan lahirnya SEMANGAT SOEMPAH PEMOEDA.
Selain itu ada keputusan penting lain yang dicetuskan di kongres tahun 1938 tersebut, yaitu mengangkat konsep “IBU BANGSA”. Dijelaskan bahwa dalam usaha meningkatkan pergerakan, wanita Indonesia diharapkan melaksanakan kewajiban utamanya sebagai “Ibu Bangsa”, dalam arti wajib berusaha membina pertumbuhan generasi penerus yang lebih sadar akan kebangsaan nya.
Pada peringatan Hari Ibu yang ke 90 tahun 2018 ini, maka merupakan momen yang tepat bagi kita untuk menggali kembali semangat dan makna “IBU BANGSA” Dalam kehidupan di kekinian, wanita sebagai Ibu Bangsa SANGAT dibutuhkan. Sebagai Wanita pada lintasan binaan dan perhatiannya yang bukan lagi hanya pada “inter keluarganya” semata.
Siapakah “Ibu Bangsa” itu?? Jika kita berbicara sebagai ‘Ibu Bangsa’ maka tugas ini bisa diemban dan diperankan oleh semua wanita, baik yang menikah, melahirkan,tidak melahirkan,tidak menikah asalkan dia berjenis kelamin wanita maka tugas sebagai Ibu Bangsa bisa diembannya.
Kriteria Ibu Bangsa adalah memiliki Keteladanan / role model, profesional, mandiri, bermartabat, kreatif, berdaya saing, visioner, berkarakter, berani, Menjadi pendidik, pengasuh, pembimbing, sekaligus guru yang pertama dan utama, dll.
Walaupun harus disadari bahwa tidak mudah untuk menerjemahkan “Ibu Bangsa” dalam konteks kehidupan di zaman NOW. Terlebih di era GLOBAL yang dimana arus budaya yang terus mendera “urat nadi budaya” Bangsa Indonesia, Ibu Bangsa jaman “NOW” memiliki Tantangan yang multikompleks dan harus memiliki multi talented serta multitasking. Perempuan Jaman NOW harus diberdayakan karena dengan Berdaya dan memiliki kemampuan maka dia akan dapat menjadi mitra terpercaya sebagai pilar yang kokoh bagi Negara dalam rangka pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya dengan melahirkan generasi penerus yang selalu siap menghadapi dinamika, tantangan dan perubahan zaman. (…../IS)
