Keberadaan Kampung Pelangi Menjadi Berkah Bagi Pedagang Bunga di Kota Semarang
METRORAKYAT.COM, SEMARANG – Kampung Pelangi yang terletak di Jalan Dr Sutomo No. 89 Wonosari, Randusari, Kota Semarang Jawa Tengah menjadi salah satu lokasi destinasi wisatawan baik dari dalam dan luar negeri, siapa saja yang berkunjung ke Kota Semarang pasti akan berkujung ke tempat yang diberi nama ‘Kampung Pelangi’, seperti halnya juga rombongan wartawan unit Pemko Medan dan ASN Pemko Medan saat melakukan kunjungan studi komperatif ke ibu kota provinsi Jawa Tengah tersebut, Rabu
28/11/18).
Letak rumah penduduk yang ada di kampung pelangi juga tergolong unik karena berada di dataran tinggi bukit Perintik ( dalam bahasa jawa ) atau keriting dengan dinding rumah diberi beraneka warna mirip pelangi.
Menurut informasi dari seorang quite tour yang membawa ASN dan puluhan wartawan Unit Pemko Medan ke lokasi Sarkem (pasar kembang) tersebut, awalnya lokasi kampung pelangi hanyalah rumah kumuh yang didiami masyarakat dari golongan miskin dan menengah, tidak ada yang menarik meskipun saat itu sudah ada penjual kembang (tanaman bunga) yang berada tepat di pinggir kalisari. Oleh Pemerintah Kota Semarang berpikir untuk menjadikan wilayah tersebut menjadi objek wisata, namun tidak harus menggusur rumah warga dan menata seluruh pedagang kembang dengan memberikan tempat yang layak.
“ Mulailah Pemkot Semarang menganggarkan dana dari APBD mereka sebesar Rp 9,6 miliar untuk merenovasi desa Kalisari secara besar-besaran,” terangnya.
Lanjut Roni lagi, renovasi selesai Desember 2016, baru pemerintah merasa keindahan pasar ini tidak didukung oleh kampung di belakangnya. Saat itulah tercetus ide agar Gunung Brintik juga turut dipercantik.
“Karena tak semua rumah di sana tergolong miskin, anggaran pemerintah tidak bisa digunakan. Namun, mereka berhasil mengumpulkan dana Rp 3 miliar dari berbagai sumber termasuk CSR, sumbangan, dan uang pribadi. Pertengahan April 2017, rumah-rumah penduduk mulai dicat. Hingga pertengahan tahun, sudah 400-an rumah yang mendapat sentuhan kuas dan mungkin akan terus bertambah lagi.
Usaha perbaikan ini ternyata membuahkan hasil. Selang sebulan setelah pengecatan pertama, gambar Kampung Pelangi Semarang viral di media sosial. Banyak kaum muda yang mengunggah foto berlatarkan wajah baru Gunung Brintik.
Selain itu, pemerintah Kota Semarang juga membangun kampung yang diberinama kampung asmara, dan ternyata menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi oleh kaum muda-mudi.
“Jika Jembatan Warna-Warni Ada 5 jembatan sebagai akses masuk ke Kampung Pelangi Semarang. Beberapa di antaranya memiliki hiasan berbeda. Ada yang memakai payung, kain, bola-bola kecil, sampai lampion warna-warni.
Yang jelas, semuanya sangat cantik dan fotogenik. Jangan lupa berpose di tempat ini sebagai tanda kalau kamu sudah pernah memasuki Kampung Pelangi Semarang.
Kuliner Warna-Warni Puas berfoto-foto, kamu bisa mencari makanan yang dijual para penduduk setempat. Uniknya, banyak juga makanan yang bertema pelangi seperti roti lapis dan es mambo warna-warni,” terang Roni.
Manfaat adanya kampung Pelangi dan kampung Asmara ini ternyata juga membawa rezeki terhadap para pedagang bunga (kembang) dan usaha jajanan yang ada sepanjang Jalan Dr.Sutomo tersebut.
Seperti pengakuan Suci (43) pedagang bunga yang usahanya turun temurun dari orangtuanya sejak dahulu, sangat senang karena keberadaan kampung pelangi dan kampung asmara banyak wisatawan yang datang ke toko bunga (kembang) itu, meskipun hanya sekedar melihat-lihat, namun banyak juga wisatawan yang membeli bunga di tempat itu.
“Untuk bunga, banyak mas, bermacam-macam, bunga yang ditawarkan juga bermacam-macam. Mulai dari mawar, krisan, lili, matahari, dll. Harganya sekitar Rp5.000 untuk 1 tangkai mawar. Sedangkan untuk krisan, pembeli bisa mendapatkan 3 tangkai dengan membayar Rp10.000.,” terang pemilik toko kembang ‘ UKM Kali Sari’ ini.
Sama hal nya dengan pedagang kembang lainnya bernama Aida, yang memiliki toko bunga dan tanaman bernama ‘Pandan Arum’. Aida mengaku sejak 2 tahun setelah diresmikannya kampung pelangi, para wisatawan yang datang berkunjung ke lokasi yang khusus menjual tanaman bunga itu sangat banyak. Untuk retribusi, para pedagang tanaman bunga, pemkot Semarang hanya mengenakan Rp.3000 per-kios, kebersihan se iklasnya (tidak ditentukan) dan uang air sebesar Rp 10.000 perbulan.
“Ada sebanyak 100 pedagang tanaman bunga di sini, kalau untuk penjualan, kami juga menerima pesanan pembuatan hias taman pada acara-acara baik di pemerintahan dan swasta,” sebutnya.
Untuk usaha poster (papan bunga), warga di Kota Semarang banyak memesan ke tempat ini. Bedanya, tambah Aida, kalau disini poster (papan bunga) di isi oleh bunga asli, dan bukan di sewa, harga per poster (papan bunga ) Rp.400 ribu. “ Kami hanya menjual poster saja, dan poster tidak dikembalikan kepada kami, itu untuk pembelinya,” ucapnya.
Aida menjelaskan juga, bahwa pemerintah Kota Semarang, setiap tahunnya juga memberikan pelatihan kewirausahaan dan bimbingan teknik kepada para pedagang tanaman dan pelaku UKM yang ada di Kota tersebut. (MR10/Red)
