Resensi Film – Wage, kisah pilu sang komponis lagu kebangsaan

Resensi Film – Wage, kisah pilu sang komponis lagu kebangsaan
Bagikan

METRORAKYAT.COM  |  JAKARTA — Terbaring sendirian di atas ranjangnya yang sempit, dengan serangan penyakit yang menyerang paru-parunya, Wage Supratman melewatkan syakaratul maut dengan masih menggenggam naskah lagu di tangannya. Hanya biola kesayangannya yang tersandar di kursi menyaksikan kematian sang komponis lagu kebangsaan Indonesia Raya itu.

Saat itu tepat tujuh tahun sebelum Proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno-Hatta atau tepatnya 1938, WR Supratman yang berperan dalam Sumpah Pemuda 1928 dijemput maut dalam usia yang masih sangat muda 35 tahun tanpa pernah merasakan kemerdekaan yang dicita-citakan dan diperjuangkannya.

Melalui film garapannya berjudul “Wage” Sutradara John De Rantau mencoba menyuguhkan kisah pilu yang dialami Wage Rudolf Supratman sepanjang 120 menit lebih.

Ketika kecil dia mengalami tindak kekerasan oleh bapaknya yang seorang tentara KNIL, di tangsi Jatinegara pada 1912 kemudian ditinggal mati oleh ibunya. Kemudian dibawa merantau ke Makassar oleh kakak perempuannya Roekijem yang bersuamikan seorang Belanda dan dipelihara hingga dewasa.

Bakat musiknya membawanya menjadi musisi kafe tempat hiburan orang-orang Belanda. Grup musik Black and White yang digawanginya selalu bermain di kafe tersebut hingga suatu saat dia dilarang bermain lagi hanya karena dia pribumi dan ikut dalam pergerakan.

Aktivitas Wage dalam pergerakan selalu diawasi oleh agen polisi Belanda Fritz (Teuku Wisnu Rifkana), bahkan selalu mengejar-ngejar.

Tak hanya dikenal sebagai musisi, WR Supratman juga merupakan wartawan di harian Sin Po. Melalui tulisan-tulisannya dia disebut sebagai propagandis oleh pemerintah Belanda dan salah satu penjahat yang harus ditangkap. 

Sutradara menyebut ini sebagai film noir atau gelap karena menampilkan sisi kelam tokoh utama. Sepanjang film dia harus berlari menyelamatkan diri dari kejaran polisi Hindia Belanda.

Kritikus film Wina Armada menyebutkan genre film noir muncul pertama kali di Amerika Serikat pada era 1930-an yakni menggambarkan pengejaran sang tokoh oleh penjahat. Noir dalam Bahasa Perancis berarti hitam atau gelap dan genre ini dikenalkan oleh Nino Franz dari Prancis.

Gambar-gambar dalam Wage sangat bagus penuh simbolis. Sutradara berhasil menyuguhkan hal-hal yang simbolis dalam setiap adegan, misalnya ketika Wage menaburkan uang di kamar atau ketika dia merenggut kain batik penutup jenazah ibunya.

Pertemuan Wage dengan RM Sosrokartono mendapatkan wejangan-wejangan yang penuh makna juga syarat dengan simbolisasi pesan yang ingin disampaikan sang sutradara. (red/antara).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.