Herman Waruwu: Dampak Pariwisata Bagi Masyarakat Adalah Multiplier Effect
METRORAKYAT.COM | NIAS BARAT — Herman Waruwu sebagai narasumber mengatakan saat sosialisasi pada kegiatan pembinaan usaha dan jasa pariwisata yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nias Barat mulai tanggal 10-11 Agustus 2017, bahwa Pariwisata merupakan kegiatan yang secara langsung yang dapat menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga terdapat timbalbalik antara masyarakat dan pariwisata.
Bahkan pariwisata bisa dikatakan mempunyai energi yang cukup besar yang mampu membuat masyarakat setempat mengalami perubahan dalam berbagai aspek dalam kehidupan mereka, dan bahkan banyak Negara atau Kabupaten/Kota yang bergantung dari industri pariwisata sebagai sumber pajak dan pendapatan untuk perusahaan yang menjual jasa kepada wisatawan.
Oleh karena itu rencana pengembangan industri pariwisata di Nias Barat salah satu strategi Pemerintah untuk mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata, bertujuan meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dari wisata kepada orang non-lokal.
“Multiplier Effect adalah suatu kegiatan yang dapat memacu timbulnya kegiatan lain. Berdasarkan teori ini dapat dijelaskan bahwa industri pariwisata akan menggerakkan industri-industri lain sebagai pendukungnya. Komponen utama industri pariwisata adalah daya tarik wisata berupa destinasi dan atraksi wisata, perhotelan, restoran dan transportasi lokal. Sementara komponen pendukungnya, mencakup industri-industri dalam bidang transportasi, makanan dan minuman, perbankan, atau bahkan manufaktur. Semuanya dapat dipacu dari industri pariwisata,” jelas Herman, Jumat (11/08/2017), di Tokasa Hall.
Menurut Herman Waruwu, bahwa sesungguhnya Pariwisata mempunyai banyak manfaat bagi masyarakat, manfaat pariwisata dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu manfaat pariwisata dari segi ekonomi, sosial, dan budaya.
Manfaat pariwisata dari segi ekonomi, yakni: Mendatangkan devisa Negara melalui pajak seperti pajak restoran, pajak bandara, pajak karyawan, dll. Berikutnya membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga siap kerja. Para tenaga kerja biasanya mendapatkan pekerjaan dari sektor pariwisata seperti menjadi penjaga loket, membuka tempat makan, tempat perbelanjaan, pendirian penginapan, dll. Menstabilkan perekonomian lokal dan penganekaragaman pekerjaan. Melalui pariwisata keadaan perekonomian masyarakat Nias Barat akan meningkat, dan itu tentu akan menstabilkan kondisi perekonomian lokal mereka baik pembangunan daerah wisata di kota maupun di daerah.
“Dengan demikian sektor pariwisata amat sangat berperan dalam menunjang pembangunan daerah Nias Barat yang akan menarik wisatawan baik domestik maupun internasional,” ungkapnya.
Berikutnya manfaat pariwisata dari segi sosial, yakni: Mendorong pembelajaran bahasa asing dan ketrampilan baru. Masyarakat daerah pariwisata akan terdorong mempunyai ketrampilan berbahasa asing agar dapat berinteraksi dengan pendatang. Misalnya pariwisata Lagundri, Sorake dan Baloho Beach yang terdapat diwilayah Kabupaten Nias Selatan karena sering berinteraksi dengan orang asing maka secara perlahan masyarakat sekitar wisata tersebut mampu berbahasa asing. Berikutnya menimbulkan perasaan bangga pada masyarakat Nias Barat dengan pariwisata yang ada di daerahnya sehingga menimbulkan kesadaran mereka untuk sama – sama menjaga dan melestarikan pariwisata tersebut, dan sarana/prasarana yang akan dikembangkan oleh pemerintah untuk pariwisata dapat menguntungkan penduduk. Selanjutnya meningkatkan dan memeratakan pendapatan rakyat. Belanja di DTW (Daerah tujuan wisata) akan meningkatkan pendapatan dan pemerataan pada masyarakat setempat baik secara langsung maupun tidak langsung melalui dampak berganda (multiflier effect ).
Manfaat Pariwisata segi budaya, yakni: Terjadi interaksi budaya antara budaya lokal dengan budaya pengunjung yang akan membawa mereka pada rasa saling menghargai satu sama lain. Memperkenalkan budaya Nias Barat kepada masyarakat luas sehingga budaya tersebut tidak cepat luntur dan hilang karena adanya sosialisasi kebudayaan. Mengerti dan memahami latarbelakang kebudayaan lokal yang ada di Nias Barat sehingga menambah pengetahuan akan kebudayaan, dan memungkinkan terjadi asimilasi dan akulturasi budaya, namun harus dapat membandingkan sisi positif dan negatif dari budaya tersebut, Jelas Herman.
Melalui ruang diskusi beberapa peserta menyampaikan keluhan agar Pemerintah memperhatikan kelemahan mereka baik dari segi modal maupun infastruktur agar masyarakat yang ingin membuka usaha dapat terbantu.
Herman memotifasi peserta agar jangan menunggu modal yang besar baru buka usaha.
“Mulai saja dengan apa yang kita miliki, saya dulu memulainya hanya dengan bermodalkan perahu kecil dan sebuah tempat penginapan. Contohnya, Pengusaha ikan bakar Huta Galung dipantai Sirombu, dulu usaha itu hanya bermodalkan besi yang sudah dilas lalu membakar ikan diatasnya. Karena ketekunan dan kerja keras sekarang usaha mereka sukses, jadi jangan menunggu modal besar baru buka usaha,” kata pengusaha Baliho Beach itu menyemangati peserta.
Pada sesion kedua Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Hamidalubis Daeli memaparkan Pengertian tentang pariwisata dan sekaligus memperkenalkan destinasi pariwisata yang terdapat diwilayah Kabupaten Nias Barat kepada peserta.
“Untuk membangun pariwisata di Nias Barat ini adalah tanggungjawab kita bersama. Tanggungjawab pelaku usaha, tanggungjawab pemerintah Kabupaten Nias Barat dan tanggungjawab kita semua,” ungkap Kadis.
Kadis mengatakan bahwa Pemkab Nisbar sedang membangun infastruktur di bidang pariwisata namun hal itu dilakukan secara bertahap dan mengajak semua pihak untuk bekerja sama agar yang di cita – citakan dapat tercapai sehingga Nias Barat menjadi “Nias Barat Berdaya’.
Pada akhir kegiatan, Sekdis Pariwisata Rosedi Daeli menyampaikan laporan panitia dan mengucapkan terimakasih kepada narasumber dan seluruh peserta kegiatan karena berkenan hadir dan setia mengikuti acara selama dua hari.
Mewakili peserta menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Nisbar karena telah menyelanggarakan pembinaan terhadap pelaku usaha sehingga mampu memahami maksud dan tujuan mengenai usaha dan jasa pariwisata yang telah diterapkan oleh narasumber selama dua hari.
Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Sekdis, Kabid Pengembangan destinasi, narasumber Herman Waruwu peserta sosialisi dan undangan lainnya. (MR2/BW/Red)
