Hebatnya Sound of Bumi Turang   

Hebatnya Sound of Bumi Turang   
Bagikan

Saat isu tentang royalty karya cipta menggejala di blantika seni masyarakat Karo — sampai DPRD turut campur — serombongan pelaku seni hadir di jantung kota kecil Berastagi.

Sabtu malam (4/6/2022), mereka manggung tampil kompak, gagah, berestetika, beretika serta kental dengan kemasan bermodal seni leluhur. Decak kagum dan acungan jempol pantas diarahkan kepada rombongan ini, sebab mereka memberikan alternatif guna mengapresiasi karya seniman.

Pertunjukan ini sangat jauh dari kesan promosi, sebagaimana halo – halo album karya cipta yang lazim terjadi disini. Namun magnet acara tersebut berhasil mengundang ratusan penonton termasuk Forkopimda Karo.

Kabarnya mereka hanya memanfaatkan media sosial, pertemanan dan pengabaran dari orang per orang.

Didukung cuaca yang cerah, tata lampu dan tata suara memadai, hampir tidak ada penonton yang beranjak dari tempat duduk sederhana yang terbuat dari keramik itu.

Meski ada seremonial berupa kata sambutan pada pembukaan acara tidak mengurangi nilai dan daya pikat acara.

Sayangnya, sepanjang acara di arena Taman Pesta Mejuahjuah itu tidak tampak kehadiran para seniman yang mengaku “papan atas” sebagai saksi hebatnya hajatan langka tersebut.

Bisa jadi garapan kolosal semacam ini bukan menu seni yang memikat atau sebaliknya kandungan musik tradisi, memang jauh dari nilai ekonomi. Atau sengaja tidak diundang ? Merekalah yang tahu.

Sound of Bumi Turang   

Komposer pada penampilan karya ini dipercauakan Brevin Tarigan bertajuk “Sound of Bumi Turang” dikemas dengan musik Karo diikuti puak Simalungun, Pakpak dan Toba.

“Sound of Bumi Turang” tidak terlepas dengan Lake Toba Traditional Music Festival (LTTMF) yang mengangkat keberagaman musik puak yang berdiam di 8 kabupaten yang mengelilingi Danau Toba.

LTTMF 2.0 gagasan Rumah Karya Indonesia melibatkan 4 puak berkolaborasi membuat sebuah reportoar dari musik tradisi dan melibatkan masyarakat lokal untuk menyebarluaskan pengetahuan akan Danau Toba (wawasan Geopark).

Tahun 2022, adalah tahun II dilaksanakannya LTTMF yang merupakan bagian dari Festival Musik Tradisi Indonesia dengan tema Suara Danau; Memaknai, Merawat, dan Menghidupkan Musik Tradisi.

LTTMF tahun ini dilakukan di 3 lokasi, roadshow pertama  di Dairi 21 Mei ke dua di  Taman Mejuah-juah Brastagi dan puncaknya di desa Meat, kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba 5-7 Agustus.

LTTMF di Kabupaten Karo merupakan program yang diselenggarakan Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media bekerja sama dengan Rumah Karya Indonesia.

Acara ini juga didukung oleh Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga serta Pariwisata Kabupaten Karo dan Banper Infrastruktur Ekraf.

Malam itu, Brevin Tarigan Dkk menyajikan kolaborasi musik tradisi yang dipadukan dengan musik orkestra. Kolaborasi ini melibatkan 40 anak-anak muda di kabupaten Karo, De Tradisi, Cadenza Chamber Music, dan seniman tradisi dari puak Karo, Simalungun, Pakpak dan Toba.

Sound of Bumi Turang, menceritakan tentang awal mulanya bunyi ada di masyarakat Karo. Bunyi-bunyian yang tidak tertata awalnya, selanjutnya ditata sedemikian rupa untuk menggambarkan awal mula bunyi itu hadir di masyarakat Karo.

Sejumlah tembang lawas yang ditata ulang De’Tradisi sangat memikat malam itu. Misalnya lagu “Bintang Simarondang” dan “Bunga Dawa”. Suara Ice yang cukup pas membuat lagu tersebut dapat dinikmati semua usia. Apalagi tempo sedang yang dimainkan Emady Bangun DKK , serasa pendengar diajak menari.

Tak kalah memikatnya permainan instrumen petik khas Karo, Kulcapi yang dibawakan G’an Ginting. Anak Talun Kenas yang sedang belajar di SMK 11 Medan tersebut terkesan memaksa penonton melihat ke panggung saat ia memainkan repertoar lama musik Karo bersama dukungan dua perkusi “keteng – keteng”.

Lagu legendaris Djaga Depari bertajuk “Tenah Lau Binge” menjadi klimaks Sound of Bumi Turang. Meski ada juga tembang “ Inang Inang Olo” yang unik namun komposer Brevin Tarigan menjadikan “Tenah Lau Binge” menjadi baru, easy listening dan renyah di pendengaran. D’Tradisi seakan ingin menjelaskan bahwa walau tembangnya lawas, namun bila dikemas talenta bertangan dingin, pujian tak sebatas kata – kata.  (Drs Jenda Bangun, Pemred metrorakyat.com)

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Admin Metro Rakyat News