BI: BSPI Tahun 2025 Dorong Integrasi Ekonomi Bersama Keuangan Digital
METRORAKYAT.COM, JAKARTA – System pembayaran melalui transaksi digital harus didampingi dengan mitigasi risiko sekarang mengalami peningkatan yang signifikan.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan hal tersebut dalam paparannya melalui live streaming di hadapan para undangan dari kalangan pengusaha serta perbankan.
Lanjut Perry, digitalisasi sistem pembayaran merupakan salah satu isu utama dalam finance track Presidensi G20. Ini salah satu agenda utama dalam finance track, termasuk persiapan CBDC,” paparnya saat pembukaan Casual Talks On Digital Payment Innovation Of Banking, Selasa (15/2/2022).
Untuk agenda tersebut, akan dibahas mengenai bagaimana kerja sama sistem pembayaran secara crossborder, termasuk pembahasan mengenai mata uang digital bank sentral atau Central Bank Digital Currency (CBDC).
Hal ini juga sejalan dengan Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025, di antaranya mendorong integrasi ekonomi dan keuangan digital, terang Perry lagi.
“Termasuk mendukung digitalisasi perbankan, mengintegrasikan antara bank dan teknologi finansial (tekfin), menyeimbangkan inovas dan mitigas risiko,” ucap Perry.
Bank Indonesia telah mencatat transaksi ekonomi serta keuangan digital yang mengalami peningkatan pesat seiring meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, perluasan yang kemudahan sistem pembayaran digital.
Pada bulan Januari 2022, nilai transaksi uang elektronik meningkat sebesar 66,65 persen secara tahunan dengan capaian mencapai Rp34,6 triliun, sedangkan nilai transaksi digital banking meningkat 62,82 persen secara tahunan jadi Rp4.314,3 triliun.
Selain itu, nilai transaksi pembayaran yang menggunakan kartu ATM, kartu debet maupun kartu kredit juga mengalami pertumbuhan sebesar 14,39 persen secara tahunan jadi Rp711,2 triliun.
Kemudian, lanjut Perry, transaksi QRIS terus meningkat sejalan dengan akseptasi masyarakat, baik nominal maupun volume, masing-masing sebesar 290 persen dan 326 persen secara tahunan.
Menurutnya, digitalisasi super yang kini menjadi tren mengharuskan PT Bank Tabungan Negara/BTN (Persero) Tbk., berencana menghadirkan aplikasi super atau super apss untuk menggenjot segmen kredit properti.
Aplikasi ini menawarkan banyak keunggulan yang memudahkan nasabah untuk proses KPR hingga kebutuhan pembiayaan dalam merenovasi rumah.
Sedangkan Direktur Teknologi Informasi Bank BTN Andi Nirwoto, mengatakan bahwa saat ini aplikasi yang sedang dikembangkan untuk manajemen platform properti.
“Aplikasi tersebut sedang diuji coba secara internal dan jika tidak ada halangan bakal meluncur tahun ini,” urainya.
Dijelaskan Andi lagi, dalam pengembangan super aplikasi properti ini, pihaknya punya keunggulan yaitu ekosistem yang matang di sektor properti. Karena BTN merupakan satu-satunya bank milik pemerintah, yang fokus di bidang properti.
Menurut Andi, kekuatan digitalisasi perbankan ada tiga yaitu SDM, ekosistem dan teknologi. BTN akan mengombinasikan tiga pilar untuk membangun ekosistem yang bernama More Gets.
Ekosistem yang akan menghubungkan konsumen dengan ribuan pengembang melalui aplikadi super tersebut. Nantinya para nasabah bisa bertransaksi untuk membeli rumah baru, rumah seken, hingga renovasi rumah.
“Super aplikasi nantinya juga memiliki beragam fitur mulai dari pembayaran, pembelian, hingga investasi. Di sini kami memikirkan keunggulan di era digital untuk 5 sampai 10 tahun ke depan,” imbuhnya.
Disampaikan dia lagi, mengembangkan super aplikasi untuk properti tersebut, BTN akan bekerja sama dengan berbagai perusahaan. Dengan begitu maka pihaknya akan membangun platform Antarmuka
“Pemrograman Aplikasi atau Application Programming Interface (API), guna mempercepat terbentuknya ekosistem More Gets,” sebut Andi mengakhiri. (MR/156).
