Ditengah Pandemi Covid-19, Perkebunan Sawit Tetap Dorong Investasi di Sumut

Ditengah Pandemi Covid-19, Perkebunan Sawit Tetap Dorong Investasi di Sumut
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Walau Pandemi Covid-19, perkebunan sawit tetap tumbuh di Sumut. Pertumbuhan ini dilihat dari hasil triwulan III 2020 dengan prediksi investasi mengalami perkembangandari triwulan sebelumnya. “Tentu hal itu didorong oleh investasi swasta di sektor perkebunan sawit,”sebut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sumut Wiwiek Sisto Widayat, lewat Bincang-bincang Media (BBM), Selasa (6/10/2020).

Tahun 2020 triwulan III Investasi diprediksi mengalami peningkatan. “Sebab telah ada peningkatan sebagai pendorong investasi industri sawit,” pungkasnya.

Menurut Wiwiek yang didampingi Wakil KPw BI Ibrahim dan Kepala Grup Sistem Pembayaran serta Pengelolaan Uang Rupiah BI Sumut Andiwiana Septonarwanto.

Lanjutnya mengatakan, ada beberapa pendorong investasi. Yakni industri sawit, meliputi replanting, akuisisi lahan baru, penambahan pabrik, perbaikan mesin produksi, penambahan line produksi.

“Kini harga sawit sudah kembali normal di bulan Agustus meningkat,” cetusnya.

Investasi diprediksi akan mengalami peningkatan didorong industri sawit.

Karena sawit cukup baik sebagai pemenuhan ekspor dan kebutuhan domestik terkait biodiesel.
Wiwiek juga memprediksi bulan Agustus, ekspor industri sudah mulai membaik serta meningkat meski volume menurun.

Diperhitungkn industri makanan dan minuman juga mendorong peningkatan investasi, atas adanya maintenance rutin dari pengusaha sektor industri minuman olahan dan industri plastik.
Dijelaskan Wiwiek lagi, indikasi pendorong investasi adalah konstruksi, yakni pembangunan proyek multiyears milik pemerintah seperti jalan tol, bendungan, kereta api, dan kelistrikan. Kemudian, proyek milik swasta pabrik industri retail, kelistrikan, maupun pertambangan.
Selanjutnya, industri karet penyebab tertahannya investasi. Pasalnya, tidak ada investasi dari pelaku usaha industri karet akibat ketidakpastian pasar dan harga jual karet yang rendah.

Di bidang real estate, pengusaha sektor real estate belum melakukan pembangunan karena minimnya permintaan.

Sedangkan di bidang jasa transportasi, pengusaha jasa transportasi menunda rencana investasi berupa fasilitas sarana dan prasarana hingga kondisi membaik.

“Faktor lainnya menahan investasi adalah tidak adanya investasi baru dari sektor perdagangan retail, industri kayu, dan pertanian,” terang Wiwiek mengakhiri. (MR/ JB Rumapea)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.