HUKUM

Polres Tapteng Gelar Rekonstruksi Penemuan Jasad di Pulau Mursala, Abang Kandung Adalah Esekutor Kematian Abdul Bahri Simanungkalit

METRORAKYAT.COM, TAPTENG – Rekonstruksi pembunuhan Abdul Bahri Simanungkalit (50), yang di lakukan oleh abang kandung sendiri, warga Lingkungan I Kelurahan Lubuk Tukko Baru, Kecamatan Pandan, yang ditemukan tewas mengapung di Laut perairan pulau Mursala, di gelar oleh Polres Tapanuli Tengah, Rabu (3/7), sekitar pukul 10.00 WIB.

Gelar rekonstruksi dilaksanakan di halaman Mapolres Tapteng di Jalan Jenderal Faisal Tanjung, Pandan, Enam orang saksi dihadirkan dalam gelar rekonstruksi yang melakukan 15 adegan dalam kronologis dari penemuan mayat di daerah kepulauan Mursala. Rekonstruksi yang di gelar di hadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU), Arpan CP SH, dari Kejaksaan Negeri Sibolga, Penasehat Hukum tersangka Parlaungan Silalahi SH dari LKBH Sumatera, keluarga korban, serta puluhan masyarakat yang ingin menyaksikan rekonstruksi secara langsung.

Dalam rekonstruksi terungkap, selama hidupnya korban, sering membuat keributan di tengah –tengah masyarakat dan keluarga, merusak harta benda orang lain, dan juga sering mengancam keselamatan ibu kandungnya dengan menggunakan sebilah pisau. Terakhir, pria yang mengalami gangguan kejiwaan ini melakukan pengrusakan terhadap mobil orang lain.

Akibat ulah korban yang selalu menyusahkan orangtua, tersangka Sahidun Simanungkalit, yang juga merupakan abang kandung korban, merasa kesal dan berniat mengirimkan Abdul Bahri Simanungkalit ke suatu daerah yang jauh dari Tapteng, agar korban tidak lagi kembali ke rumah dimana tempat orangtuanya tinggal.

Pada hari Jum’at (24/5), sekira pukul 11.00 WIB, ketika tersangka bersama warga lainnya sedang duduk-duduk di kedai di Lingkungan I, Kelurahan Lubuk Tukko Baru, korban datang ke warung dan mengambil satu Batang rokok milik warga. Tersangka berupaya menangkap korban namun Abdul Bahri melakukan perlawanan. Saat korban terjatuh, tersangka berupaya menangkap. kaki korban, namun korban menendang dada tersangka sebanyak dua kali. Karena korban melakukan perlawanan, pelaku dan juga bersetatuskan abang korban meminta tolong kepada saksi Jonni Panggabean beserta saksi Yeddi Malau dan Sapril Nasution untuk mengamankan korban, dengan niat agar korban tidak membuat ulah lagi.

Setelah berhasil mengamankan korban, tersangka mengambil tali rafia yang sebelumnya sudah dipersiapkan di bagian atas kanopi warung. Selanjutnya Sahudun Simanungkalit mengikat kedua tangan korban. Karena tali tersebut kurang, tersangka mengambil tali rafia yang disimpan didalam jok sepeda motor miliknya. Sahidun kembali mengikat tangan korban setelah ujung tali tersambung. Kaki kedua korban juga di ikat oleh tersangka dengam maksud agar korban tidak lagi melakukan perlawanan dan melarikan diri.

Setiba dirumah orangtuanya dengan menaiki becak, korban diletakkan diruang tengah dalam posisi telungkup. Sementara sisa tali pengikat dan tangan korban diikatkan ke kayu yang berada di langit-langit rumah. Pukul 12.00 WIB, tersangka Sahidun Simanungkalit berangkat ke tangkahan Babi Sibolga untuk memcari sopir yang mau membawa korban ke arah Pekanbaru. Kepada sopir yang tidak diketahui identiasnya ini, tersangka menceritakan kondisi adeknya dan meminta diturunkan di perkampungan suku Dayak yang terpencil. Sahidun juga meminta kepada supir apabila nanti sudah sampai ditujuan agar tali pengikat korban dilepas.

Pada pukul 18.00 WIB, tersangka berangkat kerumah orangtuanya dengan berjalan kaki. Selanjutnya masuk ke dalam rumah. dan membuka tali yang diikatkan ke broti. Saat tali dibuka korban berusaha meronta dan menjerit. Karena takut terlepas, tersangka kembali mengikat sisa tali ke bagian atap rumah.

Tersangka kemudian keluar rumah dan membeli satu buah lakban dan melilitkan lakban tersebut ke bagian mulut korban sebanyak 20 lilitan. tersangka juga mengambil daster orangtuanya dan mengikatkannya Ke mulut korban dan kembali dilepas dengan lakban sebanyak 8 lilitan. Selanjutnya korban dipapah ke arah pinggir laut agar mudah dibawa ke tangkahan babi Sibolga, dengan menggunakan boat. Namun rencana membawa korban ke tangkahan babi dengan menggunakan boat batal. Tersangka kembali memapah korban ke dalam rumah orangtuanya.

Pada pukul 20.00 WIB, tersangka kembali datang kerumah orangtuanya dengan menggunakan mobil Toyota Rush BB 1688 MB. Saat melintas didepan rumah tersangka Nazrin Sitompul alias Teren, tersangka meminta bantuan Nazrin untuk membawa korban ke pinggiran laut di Muara Lubuk Tukko. Korban selanjutnya di angkat ke dalam mobil oleh kedua tersangka.

Setiba di Muara Lubuk Tukko, Sahidun memarkirkan mobil. dan membuka pintu belakang mobil. Saat korban diseret menuju boat, kepala korban sempat terhantuk tangga semen tangkahan yang membuat korban sempat merintih. Korban kemudian dibawa ketangkahan babi Sibolga dengan mengunakan perahu boat.

Akibat terlambat tiba ditangkahan babi sebagaimana kesepakatan dengan supit truck yakni pukul 19.00, Sahidum merasa kesal. Saat itulah timbul niat Sahidun untuk membunuh korban dengan cara menenggelamkannya ke laut. Selanjutnya tersangka mengambil 2 buah batu yang biasa dipakai sebagai pengikat tali jangkar. Kedua batu dililitkan diantara kedua paha korban dan tersangka yang masih dalam keadaan hidup dijatuhkan ke dalam laut.

Setelah korban tenggelam, Sahidun bersama Nazrin kembali ke tangkahan Lubuk Tukko sekitar pukul 23.00 WIB. Saat turun dari boat, tersangka Nazrin yang selama di perjalanan tertidur. sempat bertanya kepada tersangka Sahidun tentang keberadaan pamannya. Tersangka Sahidun menjawab bahwa ia sudah mengantar korban ke tangkahan. Selanjutnya kedua tersangka kembali ke rumah dengan menaiki mobil Toyota Rush nopol BB1688 MB.

Akibat perbuatannya, kedua tersangka dijerat pasal 340 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 Subsider pasal 338 jo pasal 55 ayat (1) ke 1 lebih subside pasal 351 ayat (3) jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUH Pidana dengan ancaman pidana penjara seumur hidup. (MR/RM)

Bagikan:
Redaksi Metro Rakyat
PT. Metro Rakyat Intermedia Situs Berita Portal online Berita Aktual & Inovatif
https://www.metrorakyat.com