Reses I Dame Duma Diserbu Keluhan: Banjir, Jalan Hancur, Bantuan Tak Merata

Reses I Dame Duma Diserbu Keluhan: Banjir, Jalan Hancur, Bantuan Tak Merata
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Kegiatan Reses IV Masa Sidang I Tahun Sidang 2025–2026 anggota DPRD Kota Medan, Dame Duma Sari Hutagalung, berubah menjadi “ruang curhat massal” warga.

Berbagai keluhan serius, mulai dari banjir yang tak kunjung tuntas, drainase bermasalah, hingga infrastruktur jalan yang rusak parah, mencuat dalam reses yang digelar di Komplek Tata Alam Asri, Jalan Bakti No.35, Kelurahan Tanjung Gusta, Medan Helvetia, Sabtu (20/12) sesi pertama.

Legislator Dapil I Kota Medan dari Komisi IV DPRD Medan itu secara langsung mendengar jeritan warga yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang banjir, bahkan saat hujan turun hanya sebentar.

Salah seorang warga, Pak Pangaribuan, dengan nada penuh harap mengungkapkan bahwa banjir telah menjadi masalah kronis di lingkungan tempat tinggalnya.

“Kalau banjir besar kemarin mungkin bisa kami maklumi. Tapi ini hujan sebentar saja, air sudah naik. Ada sekitar 240 kepala keluarga di komplek kami yang terdampak. Kami mohon parit segera dinormalisasi,” keluhnya.

Keluhan serupa disampaikan Dameria Siahaan terkait kondisi Jalan Klambir Lima, perbatasan Kota Medan dan Deliserdang. Menurutnya, banjir membuat badan jalan hancur, sementara perbaikan yang dilakukan dinilai asal-asalan.

“Sudah diperbaiki, tapi hanya ditabur pasir dan batu. Tidak bertahan lama. Kami minta jalan ini benar-benar diaspal dengan kualitas baik,” tegasnya.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Dame Duma Sari Hutagalung meminta warga memastikan titik lokasi kerusakan agar bisa segera dilaporkan ke dinas terkait.

Ia juga menjelaskan bahwa drainase di dalam Komplek Tata Alam Asri bukan kewenangan Pemko Medan, sehingga langkah yang bisa dilakukan saat ini adalah normalisasi parit umum di luar kawasan perumahan.

Duma mengakui, banjir besar akhir November lalu berdampak luas, khususnya di Kelurahan Tanjung Gusta dan sekitarnya. Ia mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat kondisi cuaca yang belum stabil, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

“Reses ini bukan sekadar seremonial. Aspirasi bapak dan ibu diharapkan langsung didengar perwakilan OPD. Harapan kita, jangan hanya didengar, tapi harus segera ditindaklanjuti,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut.

Perwakilan Dinas SDABMBK Kota Medan, Hasbullah Y Nasution, menyatakan pihaknya akan menyampaikan seluruh keluhan terkait drainase kepada pimpinan. Namun ia meminta agar laporan disertai titik lokasi dan kontak warga agar koordinasi di lapangan berjalan lancar.

“Kami akui ada keterbatasan, tapi lewat reses ini, keluhan warga akan segera kami tindaklanjuti,” ujarnya.

Keluhan juga datang dari Irwan, warga Kelurahan Helvetia Timur, terkait rusaknya Jalan Pembangunan dan Jalan Restu akibat proyek pengorekan pemasangan pipa. Meski sempat diaspal ulang, kualitas aspal dinilai buruk dan kembali rusak dalam hitungan minggu.

“Aspalnya hancur dan berlubang, sangat membahayakan pengguna jalan. Kami minta diperbaiki sebagaimana mestinya,” katanya.
Menjawab hal itu, Duma menegaskan bahwa kerusakan tersebut masih menjadi tanggung jawab Dinas PUPR Provinsi Sumatera Utara, karena proyek pemasangan pipa milik PDAM Tirtanadi.

“Kami akan segera berkoordinasi agar jalan tersebut diperbaiki kembali,” tegasnya.

Sementara itu, Lurah Tanjung Gusta, Hanifah, mengungkapkan besarnya dampak banjir di wilayahnya. Tercatat 9.011 kepala keluarga terdampak, namun keterbatasan bantuan membuat penyaluran belum bisa merata.

“Bukan hanya warga, rumah saya sendiri terendam hingga 1,5 meter. Namun sebagai lurah, tanggung jawab kepada masyarakat tetap harus saya jalankan,” ucapnya lirih.

Di sisi lain, Dinas Sosial Kota Medan menjelaskan bahwa bantuan sosial hanya diberikan kepada warga yang terdata pada desil 1–5. Permasalahan muncul karena banyak warga tercatat sebagai pekerja swasta atau memiliki status ekonomi lebih tinggi di data, padahal faktanya tidak bekerja atau hanya ibu rumah tangga.

Reses yang berlangsung penuh dinamika itu diakhiri dengan harapan besar dari warga agar aspirasi tidak berhenti di catatan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama serta pembagian suvenir, kue, dan nasi kotak.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Dishub Medan, Dinas Sosial Kota Medan, perangkat kecamatan dan kelurahan, serta tokoh masyarakat dan warga Kelurahan Tanjung Gusta.(MR/Irwan)

Metro Rakyat News