Deputi Gubernur BI: Sumut Prospek Besar Tujuan Investasi

Deputi Gubernur BI: Sumut Prospek Besar Tujuan Investasi
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengutarakan bahwa kegiatan North Sumatera Invest (NSI) Day 2022 di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) merupakan satu terobosan yang dilakukan secara serentak antara Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemrovsu) atas dukungan dari Bank Indonesia (BI) yang terus ingin meningkatkan investasi.

“Kami yakin Sumut memiliki prospek cukup besar sebagai tujuan investasi. Disebabkan Sumut telah berkontribusi sekira 5 persen dari perekonomian Indonesia sehingga perkembangan maupun pertumbuhan ekonomi di Sumut tentunya sangat penting sekali untuk Indonesia,” tutur Destry Damayanti secara daring pada acara NSI Day 2022, dan disiaran persnya digelar Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sumut di Hotel Adi Mulia, Kamis (29/9/2022), Medan.

Kegiatan yang dihadiri Kepala KPw BI Sumut, Doddy Zulverdi, Kepala OJK KR5 Sumatera bagian utara (Sumbagut) Yusup Ansori, para Konsul Jenderal juga Konsul Kehormatan di Medan

Pertumbuhan ekonomi di Sumut menurutnya, cukup terjaga dimana pada triwulan II tumbuh sekira 4,8 % dan 30,2 % dari pertumbuhan ekonomi yang di dikontribusikan dari investasi. Pada periode triwulan II investasi di derah ini tumbuh sekira 2,1 persen,”

Berdasarkan data informasi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) lanjut Destry, pada bulan January hingga Juni 2022 posisi investasi langsung di Provsu dalam kondisi yang cukup baik dengan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang mencapai Rp3,02 Triliun dengan jumlah 1.216 proyek. Sementara investasi Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat mencapai USD 462 juta untuk 278 proyek.

Ditambahkan Destry Damayanti, NSI Day 2022 adalah salah satu bentuk sinergi yang dilakukan antara BI dengan Pemerintah Daerah dalam rangka untuk berkontribusi nyata terhadap pembangunan di Indonesia.

Menurutnya pemilihan tema NSI Day 2022 “Boosting Investment To Recover Stronger” sangat sejalan dengan semangat Indonesia dalam Presidensi G20 Indonesia 2022 yang mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”.

“Dengan semangat kebersamaan ini kita ingin mewujudkan langkah-langkah konkrit sinergi pusat dan daerah yang tidak hanya mempromosikan penanaman modal juga ingin merealisasikan investasi di Indonesia. Potensi investasi di Indonesia sangat besar sekali tentunya juga di Sumut,” cetus Destry.

Perekonomian Global

Destry Damayanti juga menggambarkan apa yang terjadi pada kondisi ekonomi global saat ini tentunya akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia. Dengan meminjam istilah VUCA volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity, Destry menyoroti ketidakpastian perekonomian global yang terjadi khususnya di Amerika Serikat terkait kebijakan yang sangat agresif dari The Fed untuk mengatasi inflasi.

“Kebijakan yang sangat agresif dicerminkan dengan kenaikan suku bunga dari The Fed sehingga mendorong imbal hasil dari Bonds Amerika yang 10 tahun lalu dalam kondisi normal hanya berkisar 1 persen kini mencapai 4 persen.

“Inilah satu kondisi yang saya namakan VUCA karena mereka harus menghadapi permasalahan inflasi yang begitu tinggi sekali sehingga direspon dengan kebijakan moneter yang sangat agresif,” imbuhnya.

Dia memperkirakan kondisi ini akan terus berlangsung melihat konflik Rusia-Ukraina dan atas kebijakan proteksionisme yang dilakukan banyak negara dalam rangka memproteksi ekonomi khususnya energi dan pangan hingga kebijakan Zero-Covid policy di Tiongkok.

“Zero-Covid policy akhirnya juga menyebabkan perekonomian di Tiongkok mengalami perlambatan yang cukup signifikan sekaligus menyebabkan
kondisi perekonomian penuh ketidakpastian. Indonesia patut bersyukur karena punya domestik ekonomi yang cukup strong dimana hingga kuartal II ekonomi Indonesia tumbuh di level 5,44 persen. Pertumbuhan ekonomi ini didukung oleh ekonomi yang solid, baik itu konsumsi masyarakat, investasi hingga kenaikan harga komoditi ekspor yang ikut terdorong, paparnya .

Deputi Bidang Promosi Penanaman modal Kementerian Investasi, Nurul Ichwan, menyambut baik acara NSI Day 2022 karena saat ini merupakan waktu tepat untuk lebih giat lagi melakukan kegiatan promosi dalam rangka menarik investasi masuk ke Indonesia. Beliau memberi gambaran sasaran dan juga strategi pertumbuhan ekonomi dalam visi Indonesia 2045.

“Tahun 2045 kita berharap bahwa menjadi tahun Indonesia emas dimana negara kita akan menjadi salah satu top 5 ekonomi dunia. Kita bisa melihat bahwa visi Indonesia maju membutuhkan lompatan besar dan merancang strategi pembangunan Nasional. Utamanya untuk memastikan terjadinya akselerasi pencapaian Indonesia maju dengan GDP kelima terbesar pada tahun 2045 tersebut,” tambah Nurul Ichwan.

Dijelaskan Nurul Ichwan, dalam mencapai visi Indonesia maju pada tahun 2045 tersebut maka pembangunan ekonomi Indonesia dirancang akan melewati tiga tahapan yaitu:

# Tahapan pembangunan struktur ekonomi sampai dengan tahun 2025 sehingga struktur ekonomi yang diperkuat dengan industri yang lebih mandiri dan maju menjadi bagian yang paling signifikan untuk memperkuat struktur ekonomi.

# Tahapan percepatan pertumbuhan berbasis inovasi hingga tahun 2035 dimana dibutuhkan kualitas SDM yang lebih baik ditambah penguasaan teknologi.

# Tahapan modernisasi ekonomi berbasis kualitas sampai tahun 2045.
“Ini menjadi bagian acuan bagi kita bagaimana arah kedepan, tidak terkecuali hal tersebut juga berlaku untuk pembangunan investasi yang ada di Indonesia,” papar Nurul Ichwan.

Lanjut Nurul Ichwan, guna mewujudkan cita-cita Indonesia 2045 menuju negara ke 4 atau 5 terbesar di dunia maka kita harus mengingat bahwa penghasilan perkapita juga harus lebih besar dan merata. Perekonomian kita juga harus didukung infrastruktur yang memadai kemudian SDM berkualitas dan mampu menyerap perkembangan teknologi dengan cepat agar kemampuan untuk melakukan tata ruang yang lebih baik serta kebijakan yang dilakukan untuk sisi ekonomi.

Selanjutnya ada juga sejumlah tantangan perekonomian di tingkat produktivitas yang masih perlu diperbaiki kemudian faktor-faktor produksi yang dimiliki harus dilakukan kolaborasi dengan baik.

“Bagi Indonesia sebenarnya kemampuan secara ekonomi masih jauh lebih bagus dibanding beberapa negara lain. Sebabnya Indonesia memiliki bonus”,

demografi dan punya kekuatan sumber daya alam. Tapi kekuatan sumber daya alam kita tidak lagi sekokoh sebelumnya. Contoh kasus dari sisi minyak, dulu kita menjadi bagian OPEC, begitu kita tidak menjadi pengekspor minyak lagi dan ketika harga-harga minyak melambung maka imbasnya akan terjadi pada Indonesia berupa inflasi dan lainnya,” ujar Nurul Ichwan.

Dalam rangka untuk mencapai hal tersebut maka penguatan struktur industri, peningkatan kualitas SDM dan penguasaan teknologi akan memberi kesempatan kepada Indonesia melakukan hilirisasi atas berbagai kemampuan yang dimiliki.

“Kelebihan Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam dan kelebihan SDM itu harus didukung dengan kualitas yang lebih baik untuk menjadi bagian faktor produksi yang memberi kemampuan bagi Indonesia untuk bersaing secara komparatif maupun kompetitif,” harap Nurul Ichwan.

Terkait Sumut, Nurul Ichwan melihat bahwa kolaborasi yang dilakukan harus mengacu kepada perkembangan-perkembangan tersebut sehingga ketika mencoba mendesain peluang investasi yang ada di daerah ini tentunya tidak melepaskan konteks-konteks Internasional yang mulai bergeser dari arah investasi yang tadinya ekstratif kemudian bergeser kepada inovasi-inovasi dan investasi yang berbasis atas investasi yang hijau.

“Kedepan peluang investasi atas kehijauan harus menjadi perhatian kita bersama mulai dari energi yang disiapkan harus berbasis pada energi hijau dengan mulai meninggalkan energi yang disiapkan dengan kontribusi dari batubara sehingga harus beralih kepada energi terbarukan. Kemudian dalam rangka mengurangi karbon tersebut kita juga harus bergeser dari pola konsumsi khususnya dari sisi kenderaan yang berbasis fosil menjadi industri mobil listrik.

“Penggunaan listrik akan mengurangi kontribusi pencemaran karbon yang ada di Indonesia,”sebutnya.

Plh Sekretaris Daerah Sumut Dr.H.Agus Tripriyono,SE.M.SI,AK.CA meyampaikan potensi investasi di Sumut terutama sektor pertanian masih sangat besar.  Sektor ini pun memiliki jumlah tenaga kerja sebanyak 34,27% dari total penduduk bekerja, sehingga peluang berinvestasi di sektor pertanian sangat menjanjikan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut sendiri sudah menyiapkan berbagai dukungan untuk meningkatkan iklim investasi lewat pemberian insentif maupun kemudahan kepada investor yang akan berinvestasi.

Pemprov Sumut juga sedang memperbaharui kebijakan pemberian insentif dan kemudahan yang dimaksud, agar lebih memberikan kemudahan kepada calon investor, baik asing maupun investor dalam negeri. (MR/156).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.