oleh

Enda Ginting Korban Fitnah Isterinya

SHARE
979 views

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Kesedihan tergambar dari mimik wajahnya, saat mengisahkan perjalanan rumahtangganya. Pernikahannya dengan wanita dari Slovakia, Katarina Kohutova, terancam hancur. Mahligai rumahtangga dengan kehadiran seorang putri berusia hampir tiga tahun, diterpa masalah. 

Si isteri telah menceraikannya secara sepihak di pengadilan Slovakia. Tak hanya itu. Ia juga dilaporkan oleh isterinya ke kepolisian negara pecahan Cekoslovakia itu dengan tuduhan melarikan anak kandungnya. 

Enda Ginting. Itulah nama lelaki Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah memperisteri wanita kewarganegaraan asing itu. 

Mantan staf di kantor Kepala Staf Presiden (KSP) ini menyebutkan, isterinya yang bekerja sebagai tenaga konsultan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut, telah memfitnah dirinya.

“Tempat saya melamar kerja di salah-satu Non Goverment Organization (NGO) di Belgia, terpaksa membatalkan lamaran kerja saya. Padahal, sesuai kesepakatan yang telah dibuat dengan NGO itu, seharusnya saya sudah mulai kerja pada awal 2021 ini. Tetapi karena saya di sebut nya telah melarikan anak saya kepada NGO itu, maka kesepakatan kerja itu, di batalkan oleh NGO tadi,” ungkap Enda kepada media, saat diminta bertemu di sebuah kawasan di Medan, Selasa (19/01/2021).

Ia merasa heran dengan adanya pemanggilan dari pihak Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) terhadap dirinya. Atas laporan isterinya itu, ia dituduh telah melarikan anaknya sendiri. 

Diuraikannya, awal mula masalah yang di alaminya. “Pada tanggal 19 Agustus 2020 siang, saya berangkat dari kota Vienna, Austria, bersama anak saya dengan penerbangan Qatar Airways. Saya tiba di Bandara Doha, pada tanggal 19 Agustus 2020 tengah malam di Qatar untuk transit dalam perjalanan kami ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan adik perempuan saya, Ibrena beru Ginting. Lama transit dua jam,” urainya.

Ketika akan menaiki pesawat yang akan membawa saya ke Jakarta, sambungnya, empat orang petugas penerbangan meminta saya masuk ke ruangan khusus untuk pemeriksaan. Kondisi saat itu, anak saya gendong dan sedang tidur. Protokol Covid mensyaratkan adanya pembatasan kontak fisik. Beberapa petugas pesawat beserta tiga orang polisi bandara menjelaskan bahwa saya di curigai sebagai pelaku penculikan anak atas laporan dari polisi negara Slovakia. 

“Pemeriksaan dilakukan kepada saya yang terdiri dari berbagai pertanyaan tentang ke beradaan istri saya, pekerjaan saya, identitas anak yang saya gendong, negara asal, negara tujuan dan bahkan petugas bandara meminta agar saya membangunkan anak saya yang sedang tidur guna dil akukan pemeriksaan secara terpisah. Saya menolak. Para polisi dan petugas tersebut bersikeras bahwa saya adalah pelaku penculikan anak. Mereka juga mengambil beberapa foto saya dan foto anak saya beberapa kali.

Setelah menunjukkan berbagai foto ayah saya, anak saya, ibu saya dan adik-adik saya petugas dan polisi mulai menerima kenyataan bahwa anak yang saya gendong adalah anak kandung saya. Saya kemudian menjelaskan dan menunjukkan undangan perkawinan adik saya yang tertulis dalam bahasa Arab dan menunjukkan paspor WNI saya dan paspor WNI anak saya, akte kelahiran anak saya dan akte pernikahan saya, ketujuh petugas tadi mengatakan “alhamdulilah congratulations for your sister’s wedding” dan mempersilakan saya menaiki pesawat. Kondisi saya saat itu sudah ketakutan,” kenangnya.

Setibanya di Bandara Soekarno Hatta (Soetta), imbuhnya, saya dan anak harus mengantri sekitar satu jam lebih lama dibandingkan penumpang lainnya mengingat bahwa anak saya tidak memiliki hasil PCR. Setelah meminta dispensasi untuk menyertakan hasil PCR, saya diberi waktu lima hari untuk menyerahkan PCR atau anak saya akan diambil paksa untuk masuk karantina.

“Ketika saya akan memasuki gerbang imigrasi, saya ditarik beserta anak saya keluar dari antrian oleh petugas imigrasi Bandara Soetta untuk masuk ke ruangan khusus imigrasi. Disini saya dibiarkan menunggu lebih dari satu jam tanpa bicara bagaikan seorang yang tersangka yang melakukan kejahatan. Sewaktu menunggu, salah seorang petugas mengatakan bahwa saya di curigai sebagai penculik anak atas laporan dari polisi negara Slovakia. Kondisi saat itu adalah anak sudah kecapekan, dan kami belum makan.

Petugas imigrasi menjelaskan bahwa saya dicurigai sebagai pelaku penculikan anak. Lagi-lagi saya menjelaskan maksud kedatangan saya kembali ke negara saya sembari menunjukkan bukti-bukti seperti paspor saya sebagai WNI, paspor anak saya sebagai WNI, akte kelahiran anak saya dan akte pernikahan saya dan istri saya. Setelah satu jam di interogasi oleh petugas Imigrasi saya di persilakan masuk ke Indonesia dan baru saat itu saya di beritahu bahwa orang yang melaporkan saya sebagai penculik anak bernama Katarina Kohutova, istri saya sendiri. Kondisi saat itu, saya ke bingungan dan khawatir apakah istri saya sedang mabuk, atau sudah stress karena sudah lebih dari tiga minggu tidak tidur teratur.

“Setelah melewati imigrasi, saya kemudian mencari tempat penginapan untuk satu malam, sembari membeli tiket untuk keberangkatan ke Medan di penerbangan pertama keesokan harinya. Alasan itu juga yang membuat saya dipanggil Poldasu saat ini,” ucapnya.

Kabid Humas Poldasu, Kombes (Pol) Hadi Wahyudi, saat di konfirmasi terkait hal itu melalui pesan WhatsApp (WA)-nya, membalas dengan menulis, “Nanti saya cek dulu laporannya ya.”

Namun sampai berita ini di muat, ia belum menjelaskan duduk masalah yang telah ditangani Poldasu itu.

Sementara, Kadis Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Provinsi Sumatera Utara, Nurlela, menjawab pesan WA ikhwal konfirmasi tersebut, melalui ponselnya mengatakan bahwa dinas yang dipimpinnya sedang melakukan tugas pendampingan terhadap masalah tersebut. 

“Saat ini, Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, sedang melakukan pendampingan terhadap kasus itu. Dan tadi, kita sudah fasilitasi penanganan masalahnya di Direktorat Renakta Poldasu. Hal ini bisa ditanyakan kepada Enda. Akan kita upayakan penyelesaian yang terbaik nantinya,” ujarnya.

Namun ia belum menjelaskan hal penitipan putri Enda Ginting, di sebuah yayasan di kawasan Medan Tuntungan. (MR/Sipa Munthe)

Breaking News