Keluarga Korban Pembunuhan dan Mutilasi di Tele Pertanyakan Kinerja Polres Samosir

Keluarga Korban Pembunuhan dan Mutilasi di Tele Pertanyakan Kinerja Polres Samosir
Bagikan

MetroRakyat.com | MEDAN – Keluarga korban pertanyakan kinerja Polres Samosir yang sampai saat ini belum dapat mengungkap pelaku pembunuhan Feri Wijaya (23), Mandor PT Toba Pulp Lestari (TPL) di sekitar kawasan Hutan Tele Kabupaten Samosir, pada 24 Oktober 2015 lalu.

Akibatnya,membuat kekecewaan terhadap Keluarga Besar korban, terutama ibu korban bernama Murita Br.Sihombing(50) dan ketiga anak-anaknya, Willy Samudra(30), Hendrik Yas(28), dan Maria Sanjaya(19).

Hal ini terungkap saat wartawan  mengunjungi keluarga korban tersebut di kediaman keluarganya, Minggu(8/1/2017) di Medan.

“Sudah 1 tahun 4 bulan lebih, pelaku pembunuh anak saya, Feri Wijaya tidak berhasil diungkap oleh pihak Kepolisian Ressot Kabupaten Samosir. Padahal sebelumnya Kasatreskrim Polres Samosir pernah mengatakan kepada kami bahwa 75 persen, pelaku sudah diketahui.” Ujar Ibu Korban sambil menangis mengingat anak ketiganya tersebut.

Keluarga korban juga mengaku telah pernah melayangkan surat ke Polda Sumut, Direskrim dan Propam Polda Sumut pada akhir Desember 2015 atas lambannya kinerja Polres Samosir menangani dan menangkap pelaku pembunuh yang membunuh dengan sadis Feri Wijaya.

Selain itu, pada tanggal 17 Desember 2015, pihak keluarga juga telah pernah melaporkan kasus pembunuhan sadis tersebut kepada organisasi Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI) perwakilan Kota Tanjung Balai, untuk membantu mereka lewat media agar kasus kematian anak mereka yang dibunuh sadis dan dimutilasi dapat segera terungkap.

“kami berharap pihak Kepolisian Daerah Sumatera Utara dapat membantu kami untuk mengungkap kasus kematian anak saya bernama Feri Wijaya yang dibunuh secara sadis dan dimutilasi di hutan TPL Samosir. Kepada Kapolres Samosir yang baru saat ini, kami pihak keluarga memohon agar segera diprioritaskan kasus kematian anak kami tersebut yang sudah lebih satu tahun (24 Oktober 2015 s/d 8 Januari 2017) tidak juga dapat terungkap. Meskipun banyak kejanggalan yang kami temui melalui investigasi langsung yang kami lakukan untuk membantu pihak Kepolisian mengungkap pelaku pembunuhan, namun sebagai Negara Hukum yang berazaskan Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa, kami sangat berharap kepada pihak Kepolisian Republik Indonesia mampu segera mengungkap para pelaku pembunuhan yang kami duga bukanlah orang dari pihak luar, mengingat situasi kejadian masih diwilayah kerja PT.toba Pulp Lestari tempat anak saya bekerja sebagai Mandor penanaman dan perawatan pohon Chaliptus.” Terang warga Hessa Air Genting, Kecamatan Air Bau, Kabupaten Asahan tersebut.

Sementara itu, Abang Korban, Hendrik Yas(28) yang juga turut mendampingi orangtuanya kepada wartawan menjelaskan bahwa mereka banyak menemukan kejanggalan terkait kematian Feri Wijaya saat itu. Dijelaskan bahwa semasa hidup, adiknya (Feri Wijaya-red) adalah orang yang ramah dan sangat peduli terhadap orang lain ( memiliki jiwa sosial yang tinggi), dan karena kebaikannya tersebut, korban diketahui sangat dekat masyarakat setempat termasuk dengan oknum Kepala Desa yang juga seorang pemborong dilokasi tempat korban tinggal. Namun, tidak diketahui kenapa adik mereka tega dibunuh secara kejam oleh pelaku yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya.

“ ada kejanggalan atas proses penyidikan kematian adik saya, Feri Wijaya, pihak Polres Samosir sudah memeriksa beberapa saksi termasuk pihak keluarga, namun hingga saat ini Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) dari pihak kepolisian belum ada kami terima. Kami juga herankan, kenapa semua saksi katanya telah diperiksa, sementara kami belum mengetahui apakah Kepala Desa juga sudah diperiksa. Saat kami mempertanyakan hal tersebut kepada pihak penyidik maupun Kasat Reskrim Polres Samosir mengatakan, bahwa kasusnya masih proses penyelidikan, padahal Kasatreskrim pernah mengatakan 75 persen sudah mengetahui para pelaku pembunuh adik saya, apakah ada intervensi khususdari pihak tertentu atas penyelidikan kasus kematian adik saya, “ tanyanya Heran.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Samosir, AKP Adi Alfian,SH saat dihubungi wartawan melalui selulernya menjelaskan, bahwa pihaknya sampai saat ini masih melakukan pemerikasaan atas kasus pembunuhan sadis tersebut, dan sudah memeriksa sebanyak 27 saksi dari 3 Kecamatan yang berada di wilayah hukum Pores Samosir tersebut. “ Kami sampai saat ini sudah melakukan pemeriksaan terhadap sebanyak 27 orang saksi baik, dari teman kerja, teman sepermainan, hingga ibu pengasuh(kos), termasuk orang-orang dekat korban yang kami curigai. Namun kami harus bekerja sesuai prosedur agar tidak dikatakan tidak professional.” Jelas Adi.

Saat ditanya wartawan terkait Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP), Adi mengatakan telah mengirimkannya lewat Pos, karena keluarga korban berada di daerah Kisaran.

Namun sesuai konfirmasi yang dilakukan oleh awak media kepada Keluarga Korban, mengakui bahwa mereka tidak ada sampai saat ini mendapat kiriman baik melalui pos ataupun diantar langung oleh pihak Kepolisian terkait surat SP2HP dari pihak penyidik Polres Samosir tersebut.

“ tidak ada itu bang, sampai saat ini kami tidak ada menerima surat tersebut baik ,melalui pos, apalagi itu dari pihak Kepolisian, kan tidak mungkin tidak sampai kepada kami. Untuk itu,kami meminta bantuan dari rekan-rekan media untuk mengiring kasus kematian adik saya yang dibunuh secara sadis oleh pelaku yang sampai saat ini masih merasa hebat dan merasa bebas dari jeratan hukum, sementara tanpa disadari masih ada yang lebih kuat diatas sana yang mengetahui perbuatannya yakni yang Maha Kuasa.” Pungkas Hendri Yas.

Seperti diketahui, Feri Wijaya yang merupakan keturunan berdarah Tionghoa dan  Batak,  ditemukan tewas pada usia 23 tahun di Hutan Tanaman Industri (HTI) milik PT.Toba Pulp Lestari, tepatnya di hutan Tele, Jumat 23 Oktober 2015, dalam kondisi sangat mengenaskan dengan keadaan  membusuk, kepala putus dan bercerai dari badan, kedua tangan hilang, serta tubuh penuh luka sayatan. Barang-barang milik korban seperti sepeda motor, dompet dan handphone tidak ditemukan di Tempat Kejadian Perkara(TKP). (MR/tim)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.